Pages

Franchise or no franchise, that's the question

Pulang kerja, makan malam bersama dua rekan kerja yang saya cintai dan saya banggakan, sebut saja X dan Y (bukan nama sebenarnya). Di tengah-tengah empuknya bebek goreng, mengalirlah perbincangan seputar majalah franchise versus idealisme pers.


X: "Gue mulai merasa, kerja di majalah franchise itu enggak nasionalis."
Saya: "Iya. Sebagus-bagusnya prestasi kita, orang US cuma bakal nyebut kita 'our people in Indonesia'."
Y: "Terus apa rencananya?"
X: (berbicara dengan nada ironis) "Yah, gue akan tetep jadi wartawan. Target gue selanjutnya adalah Rolling Stone."
Saya: "Lah, franchise lagi dong?"
X: (nada semakin ironis) "Tepat sekali! Gue akan konsisten dengan ke-franchise-an gue."
Y": (gagal menangkap nada ironis X) "Gimana sih lo? Katanya nggak nasionalis?"
X: "Bodo amat."
Y: "Kan masih ada Tempo! Kompas!"
X: "Cih, mereka mah nggak masuk hitungan! Gue akan menghabiskan karier kewartawanan gue dari majalah franchise satu ke majalah franchise lain!
Y: (emosi) "Kalo mau franchise, kerja aja sana di McD!"
Saya: (nahan ketawa)

4 comments:

  1. kapan yah Warteg bisa jadi franchise di eropa???

    ReplyDelete
  2. Yah, di sini aja sempet mau dizolimi sama Bang Kumis..

    ReplyDelete
  3. @anonymous: banyak di Eropa yang udh bikin kedai makanan Indonesia...

    ReplyDelete
  4. Tapi belum franchise kan bentuknya?

    ReplyDelete