Pages

Literary Idol of The Month: March



Samuel Langhorne Clemens a.k.a Mark Twain (November 30, 1835 – April 21, 1910)

Inilah sang pengarang yang terkenal dengan kisah petualangan Tom Sawyer dan Huckleberry Finn. Ia lahir saat komet Halley jatuh, dan hidup pas 76 tahun untuk melihatnya jatuh sekali lagi sebelum mati. Nama penanya berasal dari seruan para pelayar (ia pernah menjadi nelayan kapal sungai) saat mengukur kedalaman air sebelum melempar jangkar. Tak hanya sebagai novelis, Mark Twain juga dikenal sebagai humoris paling beken di Amerika. Esai-esainya tentang perjalanan, kolom-kolomnya yang satir dan jenaka, membuatnya popular, baik di kalangan masyarakat umum, maupun para seniman, pejabat, pengusaha, dan presiden. Salah satu kalimat dia yang sampai sekarang masih saya ingat adalah: "Age is a matter of mind. If you don't mind, it doesn't matter." Ha!

Mark Twain menjadi pengarang idola kita bulan ini karena ia punya 12 tips menulis yang tak lekang dimakan zaman. Duabelas poin saya kutip dari http://www.onlineuniversities.com/blog/2010/07/12-timeless-writing-tips-from-mark-twain/ --sedangkan komentar-komentar di bawahnya berasal dari saya sendiri. Semoga bermanfaat lahir-batin.

Duabelas Tips Menulis Sepanjang Zaman
oleh: Mark Twain


1."Substitute "damn" every time you’re inclined to write 'very'. Your editor will delete it and the writing will be just as it should be."

>> Meskipun tips ini perlu direkontekstualisasi karena kata "damn" sekarang tampaknya sudah sangat bisa ditolerir, ini berarti Mark Twain tidak merekomendasikan penggunaan kata "sangat", "sekali", dan berbagai diksi lain yang sifatnya melebih-lebihkan. Ini ada kaitannya dengan tips dia yang nomor kesekian, tentang kesederhanaan dalam menyampaikan ide, dan kita bakal sampai ke sana. Sabar jaya.

2. "Write without pay until somebody offers to pay."

>> Seorang pengarang yang saya kenal pernah bilang, ada berbagai motivasi dalam menulis. Ada yang karena ingin terkenal, ingin dianggap eksentrik, ingin meninggalkan warisan bagi peradaban, ingin eksis di lingkaran pergaulan sastrawan-sastrawan terkenal, dan ingin kaya. Poin terakhir saya beri stabilo. Mark Twain menganjurkan kita untuk menulis apa yang kita suka, tanpa memikirkan apakah ada penerbit yang akan tertarik mempublikasikannya dan berapa duit yang akan kita terima. Tapi bagaimana bila tidak ada yang mau membayar untuk apa yang sudah kita tulis? Ada dua solusi. Pertama, carilah pekerjaan lain agar bisa terus bertahan hidup, sementara menulis jalan terus--sampai karya kita dikenal publik. Kedua, banting setir buka usaha laundry kiloan dan hidup bahagia selama-lamanya.

3. "The time to begin writing an article is when you have finished it to your satisfaction. By that time you begin to clearly and logically perceive what it is that you really want to say."

>> Ini benar banget! (eh, kata 'banget' nanti dicoret editor) Jangan pernah menulis saat masih bingung apa yang mau disampaikan. Ibaratnya kita mau pergi berlayar tapi belum jelas arah yang hendak dituju, bahkan lebih parah--terombang-ambing di kapal masih lebih seksi daripada mantengin layar komputer dan keseringan mencet tombol backspace kan?

4. "Anybody can have ideas–the difficulty is to express them without squandering a quire of paper on an idea that ought to be reduced to one glittering paragraph."

>> Kalau kata Farah Quinn, this is it! Pengarang-pengarang terbaik adalah mereka yang bisa menyampaikan ide atau gagasan dalam kalimat-kalimat padat yang sederhana. Pemborosan kata dan kalimat adalah sebuah dosa, yang sampai hari ini juga masih sering saya perbuat. Ayo sama-sama latihan.

5. "It was by accident that I found out that a book is pretty sure to get tired along about the middle and refuse to go on with its work until its powers and its interest should have been refreshed by a rest and its depleted stock of raw materials reinforced by lapse of time."

>> Jika tulisan yang sedang kita kerjakan membuat jenuh, segeralah istirahat. Ambil jarak darinya. Niscaya ketika kembali, kita punya perspektif yang lebih segar dan barangkali bahan-bahan yang lebih kaya. Satu-satunya masalah dengan tips ini adalah Mark Twain tidak memberitahu bagaimana caranya memastikan kita benar-benar kembali.

6. "Great books are weighed and measured by their style and matter, and not the trimmings and shadings of their grammar."

>> Percuma berbahasa berbunga-bunga jika secara isi tak ada yang baru dan menarik. Mamam tuh surealisme.

7. "As to the Adjective: when in doubt, strike it out."

>> Seperti Nabi Muhammad, perkara kata sifat, Mark Twain bilang jika ragu-ragu maka tinggalkanlah. Berkali-kali ia menyarankan agar para pengarang pemula menghindari kata sifat karena itu bisa menyalahi aturan emas "show, don't tell". Misalnya kita mau bilang tokoh kita lemot. Daripada bilang 'Dia lemot', mendingan bilang 'Pandangan matanya sering tidak fokus, dan apabila seseorang menceritakan lelucon padanya, dia akan tertawa dua belas menit setelah semua orang selesai terpingkal-pingkal.'

8. "I notice that you use plain, simple language, short words and brief sentences. That is the way to write English–it is the modern way and the best way. Stick to it; don’t let fluff and flowers and verbosity creep in."

>> Sekali lagi, mamam tuh surealisme.

9. "Don’t say the old lady screamed. Bring her on and let her scream."

>> Kurang lebih sama dengan tips nomor tujuh, hanya ini fokusnya lebih ke deskripsi. Jangan menuturkan kisah seolah-olah kita tidak ada di sana. Kita ada di sana, dan tugas kita adalah mengajak pembaca untuk melihat apa yang kita lihat.

10. "I don’t give a damn for a man that can only spell a word one way."

>> Perbanyak diksi. Beli thesaurus. Banyak membaca. Hindari Habiburrahman el-Shirazy dan Andrea Hirata.

11. "The difference between the right word and the almost right word is the difference between lightning and a lightning bug."

>> Persoalannya, apa persisnya beda kata yang "benar" dan "hampir-benar"? Saya pikir, tak ada standar lain kecuali naluri kita sendiri. Jika naluri kita terasah dan kita agak berbakat, niscaya perbedaan itu akan terdeteksi dengan sendirinya.

12. "The more you explain it, the more I don’t understand it."

>> Ini sabda yang paling sering diulang para guru saya. Jangan suka menjelas-jelaskan segala sesuatunya. Jangan meremehkan kecerdasan pembaca. Katakan apa yang ingin kamu katakan dengan sederhana (dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.. *eh) --dan konsentrasilah dengannya.

2 comments:

  1. sorry
    sorry

    i just cant stop myself posting comments on ur blog

    haddohh...
    its damn good tips
    (aku pikir untuk kali ini, Twain akan menyadari potensi kata 'damn' yang jauh berbeda arti dan muatan emosionalnya dibandingan dengan 'very')

    Membandingkan damn dengan very ibarat membandingkan Johny Depp dengan Roy Suryo.

    (hahaha, sorry twain, kidding!)

    two thumbs up!

    ReplyDelete
  2. @ronitoxid: Membandingkan damn dengan very ibarat membandingkan Johny Depp dengan Roy Suryo. >> perbandingan yang menarik! ayo dong nulis lagi :)

    ReplyDelete