Pages

Para Aktor Ini Menulis Novelnya Sendiri

Lagi jalan-jalan di Duta Pertiwi Mall Semarang, membunuh waktu sembari menunggu perhelatan wisuda Si Dicky, eh nemu stan obral buku impor. Modelnya tuh buku-buku ditebar terus bayarnya berdasarkan stiker bulet di bagian belakang. Stiker hijau berarti harganya Rp15 ribu, stiker merah Rp25ribu, dan seterusnya.

Saya kebetulan lagi jalan sama Nia, sahabat dari SMA yang juga doyan bener baca buku. Jadilah kami langsung ngibrit ke stan tersebut... dan rada kecewa. Pertama, buku-buku yang diobral itu ternyata kebanyakan buku dongeng anak-anak, resep masakan, dan berjuta-juta buku self-help (jenis buku yang judulnya "How To Be Happy", "Catching The Love of Your Life", "Guide To Successful Marriage", dan seterusnya). Kecuali kami punya anak balita, setiap hari harus masak, atau menderita krisis kepercayaan diri parah, pameran buku itu sungguh tidak berfaedah.

Saya udah siap-siap pergi, mau tebar pesona pada abege-abege di KFC.

Beruntung, Nia menyeret saya ke bagian belakang stan. Ternyata ada tumpukan buku yang benar-benar tak terurus. Kami curiga (atau berharap?) buku-buku itu nggak serius dijual--siapa tahu gratisan, kan? Soalnya, alih-alih menata buku-buku itu sehingga judulnya terbaca, ini malah disusun begitu saja dengan posisi sampul ke arah depan. Jadi kalau mau meneliti judul-judulnya, kami harus mengecek deretan buku itu satu per satu sampai jari-jari ini penuh debu.

Sekilas pandang, rak itu dipenuhi buku-buku seri Harlequinn. Itu lho, jenis buku yang sampulnya memajang sketsa pria ganteng gagah macho berbulu dada (biasanya pakai celana jeans doang) sedang memeluk seorang perempuan pirang berpinggang ramping berdada besar yang kelihatan teler kayak habis ngeganja. Terus judulnya nggak jauh-jauh dari "Dokterku yang Tampan", "Hasrat Tak Terbendung", "Permainan Cinta di Istal Kuda", yah.. jenis-jenis begitulah. Tapi penasaran: masa iya sih nggak ada buku impor bagus yang layak baca tanpa harus cemas mimpi basah sesudahnya?

Maka akhirnya, saya dan Nia merelakan jari-jari lentik manis kami berselaput jelaga.

Si Nia akhirnya nemu buku Lemony Snicket's Series of Unfortunate Events. Saya nemu dua buku yang sampulnya menyolok mata: warna merah hati yang seksi, dan kuning menyala. Pas saya amati, ternyata dua buku itu karangan dua aktor Hollywood yang cukup popular: Steve Martin dan Rupert Everett. Rupert saya kenal lewat film My Best Friend's Wedding, sementara Steve lewat film-film konyol yang nggak ada matinya.

Dia seperti Leslie Nielsen versi yang bisa memainkan peran agak serius, seperti misalnya jadi seorang ayah dari calon pengantin perempuan. Almarhum Leslie pasti nggak bisa memainkan peran seperti itu, kecuali plotnya berubah dengan liar menjadi komedi slapstick dengan banyak unsur seks dan lelucon berbasis perbedaan warna kulit dan agama di dalamnya (biasanya melibatkan Saddam Husein dan Rambo).

Ehm, kembali pada pokok persoalan. Novel Rupert berjudul Hello Darling, Are You Working? --dan punya Steve berjudul Shopgirl.




Langsung saya bayarlah buku-buku itu (lumayan, sebijinya Rp25ribu doang) --sembari mengingat, sebelum ini saya juga mendengar Ethan Hawke (oh, Ethan!!!) menulis novelnya yang terkenal, Ash Wednesday. James Franco juga menulis cerpen yang kemudian diterbitkan di majalah Esquire!, tapi saya lupa judulnya apa.

Wow. Baru nyadar, ternyata banyak juga para aktor yang nulis novel. Secara pribadi, menurut saya ini hal yang keren. Barangkali pekerjaan mereka mendatangkan keuntungan tersendiri sebab sebagai aktor mereka terbiasa mengenali plot, membaca karakter, mempelajari cara memulai dan mengakhiri cerita, dan seterusnya.

Hmmm.

Sampai sekarang yang sudah saya tamatkan baru Shopgirl. Ceritanya tentang kisah cinta segitiga antara pria setengah baya bernama Ray Porter, gadis muda bernama Mirabelle, dan lelaki muda bernama Jeremy. Jadi Mirabelle ini kena sindrom yang kerap menghinggapi perempuan berusia pertengahan 20-an, yakni cenderung lebih suka pria mapan.. *uhuk*. Tapi kelak perasaan dia untuk Ray akan terus berevolusi dan nantinya justru Mirabelle lebih bisa membangun hubungan dengan Jeremy--setelah Jeremy punya karir yang "benar" dan rada berduit, tentu saja.

FYI, sebelumnya, pekerjaan Jeremy adalah seniman stiker alat-alat musik. Kalau janjian kencan sama Mirabelle, dia ngajak ketemuan di Laundromat. Plus, selalu ngajak patungan biaya kencan.

Pesan moral untuk pria usia 20-an: jika tak ingin gadis-gadismu direbut para pria setengah baya yang bentuk perutnya sudah tak lagi rata, berpakaianlah yang rapi dan menabunglah selagi sempat.

Gaya Steve Martin bercerita di novel ini lumayan asyik. Majalah Talk kasih review, ".. Shopgirl has some of Chekov's autumn light about it." --tapi menurut saya gaya Steve Martin malah agak mirip Milan Kundera di Unbearable Lightness of Being. Dia bercerita sebagai narator serba-tahu yang paham benar kondisi psikologis masing-masing karakternya: suasana hati, latar belakang masa kecil, harapan-harapan, keputusasaan, dan seterusnya.

Yang saya suka, Steve Martin kerap menyisipkan kalimat-kalimat jenaka. Misalnya waktu Mirabelle lagi ngobrol sama musuh abadi dia di kantor, Lisa Kramer. Steve mendeskripsikan adegan itu sebagai, ".. kalau Immanuel Kant lewat, dia pasti bisa membedakan siapa yang phenoumena dan siapa yang noumena..". Atau ketika Ray Porter, yang sudah berumur 50-an, mendatangi Mirabelle ke apartemennya yang sempit dan harus duduk di sofa Mirabelle, ".. dalam posisi yang, bagi orang seumurannya, bagaikan gerakan yoga."

Konon novel ini sudah difilmkan, dan Steve Martin memainkan sendiri peran Ray Porter.

Buku Rupert baru saya baca beberapa halaman awal, dan tampak lebih menjanjikan ketimbang buku Steve. Ceritanya tentang aktor opera sabun Rhys Waveral yang tiba-tiba kehilangan seluruh uangnya di pasar saham. Karena tidak punya apa-apa lagi kecuali dirinya sendiri, Rhys memutuskan menjual satu-satunya benda yang masih menjadi miliknya: dirinya sendiri.

Saya belum bisa tebak ceritanya bakal seperti apa, tapi kalimat demi kalimat di bab-bab awal membuat saya jatuh cinta. Bab pertama tentang masa kecil Rhys yang diwarnai cuma dengan satu cita-cita: jadi aktris. AKTRIS lho ya, bukan AKTOR. Ketika berulang tahun, misalnya, Rhys kecil minta hadiah 'gaun pengantin', dan bukan 'tuksedo'.

Saya suka sekali pada kalimat bikinan Rupert yang ini: "By the time he was eight he knew he could never be a Great Actress. There it was, sticking out in front of him like a sore thumb: his penis - and his first showbiz disappointment - shattering all his dreams." LOL!

Saya penasaran dari mana kecenderungan ini muncul: apakah karena terbiasa bermain film, mereka jadi menggemari cerita, dan kemudian menuliskannya? Atau karena memang menggemari cerita, maka mereka memutuskan untuk mempelajari cara berakting, dan menghidupinya dalam film?

Apakah para aktor Indonesia juga akan melakukan hal yang sama? Apakah rak-rak buku kita akan dipenuhi dengan novel dari Dude Herlino, Teuku Wisnu, atau semacamnya? Ataukah mereka terlalu sibuk (mencoba) menyanyi dan syuting stripping Putri yang Ditukar? Ah, kita tunggu saja, Pemirsa.

Salam gaul.

No comments:

Post a Comment