Pages

Si Murai dan Orang Gila

Judul buku : Si Murai dan Orang Gila

Penulis : Aneka rupa

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah hlm : 180 halaman

Cetakan : Pertama, Desember 2010


Jadi cerpen saya masuk dalam antologi ini.

"Si Murai dan Orang Gila" adalah bunga rampai (eh, bunga rampai itu beneran ada atau cuma istilah sih?) cerita pendek Panggung Sastra Komunitas Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Diluncurkan Rabu (15/12) lalu di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM). Isinya ada 30 cerpen yang ditulis oleh pengarang-pengarang muda usia (di bawah 40) yang tergabung dalam kantung-kantung komunitas sastra.

Kecuali saya.

Saya nggak punya komunitas, kecuali tim kompak Bengkel Penulisan Novel DKJ angkatan 2009 di bawah asuhan Yusi Avianto Pareanom dan A.S. Laksana. Kami punya milis aktif, sedang mengerjakan novel bersama yang sedang menunggu jadwal terbit, dan sering kumpul berbual-bual bersama. Meski tak bernama, saya merasa yang kami punya itu sudah seperti komunitas. Dalam istilah Eka Kurniawan di pengantar buku ini (Bang Eka kuratornya), penulis-penulis dalam komunitas dapat saling berinteraksi secara langsung, berbagi karya, berbagi kritik, dan menjadi sparring partner. Nah, yang kami lakukan persis begitu, hanya saja kami tak punya nama.

Apakah segala sesuatu harus bernama baru bisa dianggap ada?

Anyways, berikut cerpen saya yang ada di buku itu. Enjoy.

SEORANG PENARI YANG MEMBUTAKAN MATANYA SENDIRI

Andina Dwifatma

Di usianya yang ketujuhbelas, Wiraditya membutakan matanya sendiri. Tuan tahu, orang biasanya menjadi buta karena sesuatu di luar kendali mereka. Ada yang memang tidak bisa melihat sejak lahir, sisanya mengalami kebutaan karena mata mereka tergores beling, tersiram air keras, atau tak sengaja menatap gerhana matahari dengan mata telanjang. Kalau Tuan suka, saya bisa menceritakan bencana-bencana yang mengundang iba itu lengkap dengan nama-nama korbannya, tetapi cerita ini bukan tentang mereka. Ini cerita tentang Wiraditya, yang suatu malam memutuskan untuk menjadi buta.

Wiraditya, Tuan, adalah seorang penari. Dan penari yang sangat hebat, kalau boleh saya tambahkan. Menurut ibunya, sejak masih bayi Wiraditya sangat sensitif terhadap suara-suara. Ia akan mengangkat kepalannya yang terbungkus sarung tangan warna biru langit atau menendang-nendangkan kaki mungilnya atau tertawa memamerkan gusi merah mudanya setiap kali mendengar bebunyian.

Dalam hal ini, bayi Wiraditya tidak pilih-pilih. Ia bereaksi terhadap komposisi klasik macam L'enfant prodigue karya Achille-Claude Debussy, seorang komposer berkebangsaan Perancis yang dipandang sukses mengawal periode peralihan zaman musik romantik ke musik modern di awal abad 20, sampai lantunan Hilang Tak Berkesan yang menyayat hati dari pedangdut legendaris Hamdan ATT - tak sengaja menyelonong dari tembok tetangga mereka yang berprofesi sebagai penjual kue putu keliling.

Tadinya ibu Wiraditya mengira putranya akan menjadi seorang musisi atau komposer lagu. Tetapi semakin besar, Wiraditya justru menunjukkan perkembangan fisik yang pesat. Tubuhnya tegap, kedua tungkainya liat, dan gerakan tangannya anggun. Pernah suatu kali di usianya yang ketiga, Wiraditya berjingkat-jingkat di atas dinginnya ubin rumah mereka, lantas berputar-putar sambil setengah melompat, semakin lama semakin cepat seperti gasing. Mulutnya menggumamkan nada tak jelas.

Ibu Wiraditya spontan berteriak seolah marah, tapi sebenarnya cemas karena takut anaknya pusing. Menerapkan standar orang dewasa ke dalam diri anak kecil adalah kebiasaan ibu-ibu yang sungguh amat mengganggu. Ibu Wiraditya merasa anaknya akan pusing bila berputar seperti gasing, sebab ia sendiri akan pusing bila berputar seperti gasing. Padahal, sebaliknya, Wiraditya justru akan pusing bila ia dilarang melakukan hal tersebut.

Maka demikianlah Wiraditya balita yang terkejut oleh hardikan ibunya mulai menangis, dan ibunya lantas membujuknya agar diam dengan sekeping coklat. Beberapa menit sesudahnya, Wiraditya sudah lupa sama sekali kenapa ia kena marah, dan mulai berjingkat-jingkat lagi, lalu kembali berputar-putar sambil setengah melompat, semakin lama semakin cepat seperti gasing. Nada yang ia gumamkan dari mulutnya masih nada tak jelas yang sama. Belajar dari pengalaman sebelumnya, ibu Wiraditya mendiamkan anaknya.

Alih-alih menghardik, ia memperhatikan gerak gerik Wiraditya.

Anak itu tidak jatuh, bahkan tidak tampak limbung sebagaimana wajarnya anak kecil berusia tiga tahun yang koordinasi motoriknya belum sempurna. Ibu Wiraditya bahkan bisa merasakan kebahagiaan menyaksikan Wiraditya berputar seperti gasing, dan ini bukan jenis kebahagiaan seorang ibu yang terharu melihat anaknya melakukan aksi-aksi tertentu. Kebahagiaan yang dirasakan ibu Wiraditya adalah kebahagiaan seperti yang dirasakan orang ketika mendengar lagu bagus, atau menonton film pemenang festival, atau menyaksikan lukisan yang komposisi warnanya sempurna – kebahagiaan menyaksikan sebuah karya yang indah.

Pada saat itulah ia menyadari Wiraditya punya bakat.

Maka dua tahun kemudian, ibu Wiraditya mendaftarkan anak lelakinya ikut les balet. Iklan lembaga kursus tari kerjasama Perancis-Indonesia tersebut ditemukan ibu Wiraditya di koran Sabtu pagi, di antara iklan penjualan mobil bekas dan lowongan wiraniaga perusahaan asuransi. Iklan itu kecil saja, redaksionalnya bahkan tidak begitu persuasif seperti tempat-tempat kursus lain (tepat di samping iklan kursus balet, ada iklan kursus mengaji yang bersedia memberi jaminan seratus persen uang kembali ditambah bonus infaq jika anak anda dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam tidak juga lancar membaca Al-Quran), tetapi ibu Wiraditya tertarik dengan kalimat di dalamnya, “.. balet seperti piano di dunia musik, jika anak anda sudah menguasai dasarnya, ia akan bisa membawakan tarian apa pun.”

Ibu Wiraditya senang dengan ide anaknya bisa menari apa saja dengan sama baiknya, maka di hari Minggu ia membawa Wiraditya ke tempat kursus tersebut. Wiraditya adalah peserta termuda, dan satu-satunya lelaki. Seperti sudah diduga, pertanyaan pertama yang mampir ke telinga ibu Wiraditya adalah mengapa ia tidak keberatan anak lelakinya mengikuti les balet, alih-alih masuk sekolah sepakbola atau les karate.

Saat itu ibu Wiraditya menjawab bahwa menghalangi perkembangan bakat seorang anak adalah dosa paling besar yang mungkin dilakukan orangtua. Tuan tahu, jawaban ini separuhnya mengandung kebenaran yang tidak ditujukan pada dirinya sendiri, melainkan kepada suaminya, seorang arsitek berusia enam belas tahun lebih tua. Lelaki itu sudah terserang stroke saat peristiwa gasing terjadi.

“Kalau anakku ingin belajar menari, maka dia boleh belajar menari,” kata ibu Wiraditya pada suaminya yang terduduk tak berguna di kursi roda, di dekat jendela ruang makan. Itu adalah malam Rabu dua belas tahun yang lalu, tiga hari sesudah Wiraditya resmi menjadi siswa kursus balet.

Suaminya terdiam dengan mulut mencong. Matanya bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan, lantas mengedip-ngedip, seolah ingin menyatakan ketidaksetujuannya. Sarung kotak-kotak yang dikenakannya menguarkan bau apak, campuran antara keringat dan lembab alas pelapis kulit, sementara kemeja hijau pupusnya tidak terkancing sempurna.

Deskripsi mengenai penampilan fisik suami ibu Wiraditya ini sengaja saya tampilkan agar Tuan bisa mengira-ngira bagaimana wanita itu memperlakukan suaminya. Dalam kehidupan perkawinan mereka, ibu Wiraditya hanya punya kesempatan lima tahun merasakan bersuamikan seseorang yang sehat, dua tahun sebelum kelahiran Wiraditya dan tiga tahun sesudahnya.

Mestinya ibu Wiraditya bahagia karena pengalaman tersebut cukup untuk membantunya melewati tahun-tahun penuh kesulitan setelah suaminya jatuh sakit. Tetapi, selama lima tahun menjalankan peran sebagai lelaki yang sehat, suami ibu Wiraditya memperlakukan keluarganya seperti ia memperlakukan maket gedung bertingkat rancangannya: semua harus persis seperti cetak biru yang ada di kepalanya.

Suami ibu Wiraditya melarang apa saja yang bisa dilarang, dan memerintahkan semua yang mungkin diperintahkan. Ia melarang ibu Wiraditya menyelesaikan kuliahnya (wanita itu masih mahasiswa ketika mereka menikah), memerintahkan ibu Wiraditya menjadi ibu rumah tangga, menyeleksi ketat kegiatan istrinya di luar rumah – ia bahkan menentukan buku-buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca.

Di sisi lain, ia tidak memberi kesempatan bagi istrinya untuk melakukan pengekangan yang sama. Pekerjaannya sebagai arsitek sangat menyita waktu, demikian pula dengan hobinya berburu gajah, yang tidak membawa kebaikan barang sedikit pun selain sederetan koleksi gading berbagai ukuran yang memenuhi dinding ruang tengah. Ibu Wiraditya mencintai suaminya, tetapi pengekangan berlebihan bisa membunuh cinta perempuan mana saja.

Waktu menemani istrinya bersalin, sayup-sayup suami ibu Wiraditya menggumamkan rancang bangun karir bagi anaknya yang masih merah. “.. di SMA, kamu akan mengambil jurusan eksakta, nilai matematika kamu sempurna, lalu kamu masuk jurusan arsitek, dan kamu akan menggantikan Papa, kau dengar itu, Nak?”

Pada saat itu ibu Wiraditya merasa ingin muntah. Separuh dirinya marah, separuhnya lagi jijik melihat betapa tega suaminya mulai membuat maket bahkan ketika masih terlalu dini sekadar untuk memikirkan cetak biru. Secara tidak sadar, dimulailah periode negativisme, yang sebenarnya berasal dari keinginan ibu Wiraditya membalas pengekangan yang ia alami sendiri.

Maka ketika tiga tahun kemudian suaminya terserang stroke, ibu Wiraditya berjanji akan memanfaatkan situasi tersebut untuk membesarkan Wiraditya sebebas mungkin, meskipun kata ‘sebebas mungkin’ di sini tidaklah terlalu pas. Saya yakin ibu Wiraditya akan mengirim anaknya ke Timbuktu seandainya di usia tiga tahun Wiraditya menunjukkan bakat merancang bangunan bertingkat. Maka, lebih tepatnya, ibu Wiraditya membesarkan anaknya dengan cara memastikan Wiraditya tidak akan menjadi maket yang sukses bagi cetak biru suaminya.

“Kau dengar, Mas? Anakku boleh belajar menari jika ia menghendakinya.” Ibu Wiraditya terus menerus mengulang kalimat itu, seperti mantra. Ia duduk di kursi makan sambil menatap punggung suaminya yang menatap jendela, tak bergerak seperti patung Rodin Sang Pemikir.

***

Kesenian Bali mengenal konsep taksu, yaitu sejenis ruh, semangat, jiwa, yang merasuki diri seniman tertentu. Taksu bisa juga disebut energi, tetapi bukan sembarang energi: ia lebih mirip kesaktian.

Misalnya, ada dua penari yang sama-sama mulai belajar menari dari usia lima tahun, pergi ke tempat kursus tari yang sama, belajar di bawah asuhan guru yang sama, dan dilatih melakukan gerakan-gerakan yang sama pula. Mereka bisa sama mahirnya secara teknis, tetapi penari yang mengalami taksu akan mempesona penonton dengan karisma yang tidak mungkin tertandingi oleh penari satunya, yang tidak mengalami taksu.

Seniman yang mengalami taksu disebut mataksu-taksu, yang artinya meraih kesaktian. Mataksu-taksu seperti menjadi nabi. Kita tidak bisa mencalonkan diri untuk itu, melainkan terpilih. Masyarakat Bali sendiri percaya bahwa mataksu-taksu adalah perpaduan antara bakat besar dan anugrah Tuhan.

Wiraditya rupanya cukup beruntung untuk punya bakat besar, tetapi tidak seberuntung itu sampai bisa mengalami taksu. Karirnya sebagai penari sebetulnya sangat sukses. Ia memilih jalur tari kontemporer, yang terbukti bisa dilakoninya dengan sangat baik sesuai janji iklan kursus balet yang dimasukinya dua belas tahun silam.

Di usianya yang masih belasan, Wiraditya sudah mengunjungi separuh belahan bumi dalam rangka membawakan tari-tarian yang sebagian diciptakannya sendiri. Ia bahkan sudah punya murid-murid yang secara teratur datang mengunjunginya untuk belajar menari, sebagian berusia jauh lebih tua daripada dirinya. Demikianlah di area ini Wiraditya sudah menjadi kampiun. Tetapi, alangkah rentan posisi kampiun yang tidak mengalami taksu.

Kerentanan ini segera menunjukkan dirinya. Pada suatu malam perlombaan tari kontemporer di bulan April, Wiraditya untuk pertama kalinya dikalahkan oleh seorang seniman Bali bernama Made Dharma. Gerak tari Made Dharma sederhana saja, bahkan tidak menuntut liukan tajam atau lompatan tinggi seperti gaya khas tari kontemporer yang rumit, tetapi penonton memandang Made Dharma seperti para mumi menatap Imhotep Sang Raja.

Mereka tersihir, dan sesudah Made Dharma selesai membawakan tariannya, gedung seperti mau rubuh oleh tepukan dan jeritan penuh puja puji. Made Dharma sudah tua, kira-kira seusia ibu Wiraditya, sehingga sebenarnya Wiraditya tidak perlu risau dikalahkan olehnya. Tetapi, seperti agama, kemenangan adalah candu. Wiraditya tidak enak makan dan tidak enak tidur selama berhari-hari memikirkan kekalahannya dari Made Dharma.

Maka dikejarnya Made Dharma sampai ke kediamannya di Tampaksiring, dan Wiraditya terkejut menyadari betapa Made Dharma sungguh-sungguh buta. Tadinya ia pikir itu sekadar bagian dari pertunjukan, sebab beberapa penari kontemporer memang mengeksploitasi kecacatan pura-pura sebagai syarat koreografi tari mereka.

“Di dalam kebutaan sesungguhnya ada kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak tampak oleh mata telanjang, Anakku” kata Made Dharma saat Wiraditya datang berkunjung.

Tuan tahu, kalimat ini tidaklah orisinil. Bahkan anak berusia tujuh belas tahun seperti Wiraditya pun pasti sudah pernah mendengarnya di sembarang tempat. Tetapi jangan lupa bahwa saat itu rasa ingin tahunya atas diri Made Dharma sedang mencapai puncak, dan dengan cepat kalimat tidak orisinil itu menimbulkan kekaguman pada diri Wiraditya. Lagipula, baru kali ini ada seorang lelaki dewasa yang memanggilnya dengan sebutan ‘anakku’.

Lantas dengan segala cara Wiraditya membujuk agar Made Dharma berkenan melewatkan waktu barang tiga bulan di rumahnya di Jakarta. Ia ingin belajar pada Made Dharma – sebuah niat polos dari seorang anak yang belum tahu bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diperoleh dari belajar sekeras apa pun, dan mataksu-taksu adalah salah satunya.

Maka berangkatlah Made Dharma dan Wiraditya ke Jakarta. Saat mereka tiba di rumah, dengan penuh semangat Wiraditya menata rapi kamar tidur tamu, mempersilakan Made Dharma mandi dan berpakaian, kemudian meminta ibunya menyiapkan hidangan makan malam yang istimewa bagi tamu mereka.

Wiraditya bahkan menyempatkan diri mampir ke kamar ayahnya (ibu Wiraditya dan suaminya tidak tidur sekamar) dan membisikkan kata, “Aku ada tamu, namanya Made Dharma.”

Wiraditya melakukan hal ini bukan karena ia sayang atau hormat pada ayahnya – ia tidak cukup mengenal sosok lelaki itu untuk menyimpan perasaan apapun untuknya. Wiraditya hanya merasa perlu memberi tahu ayahnya. Sesuatu yang sebenarnya nyaris tak ada gunanya, tetapi tidak bisa dilewatkan begitu saja. Bagi Wiraditya, itu sesuatu yang hanya dilakukan demi kepantasan belaka, sama seperti menelungkupkan sendok garpu seusai makan, atau mengusap wajah dengan kedua tangan usai memanjatkan doa.

Tetapi ketika ibu Wiraditya muncul dari kamarnya untuk menyambut tamu asing mereka, di situ jelas tidak menyangkut kepantasan belaka. Mata ibu Wiraditya spontan membulat dan berkaca-kaca, mulutnya membentuk huruf ‘o’ mungil, napasnya tercekat. Made Dharma, yang melihat lebih jauh dari apa yang tampak, segera mengendalikan suasana dengan menggenggam tangan ibu Wiraditya, dan membimbing wanita itu ke meja makan, di mana Wiraditya sudah menunggu dengan sangat antusias. Ia memaksa duduk di samping Made Dharma, di depan ibunya, dan ribut menanyakan segala hal yang ingin diketahuinya tentang tari kontemporer. Made Dharma menjawab semua pertanyaan Wiraditya sambil makan.

Di bawah meja, kakinya beberapa kali menyentuh kaki ibu Wiraditya.

***

Tiga bulan setelah kedatangan Made Dharma, Wiraditya berada di titik terburuk karirnya sebagai penari.

Ia tidak bisa menciptakan apa-apa lagi. Ia tidak bisa berkonsentrasi menyiapkan diri untuk mengikuti kompetisi. Ia bahkan lebih tidak enak makan dan tidak enak tidur dibanding ketika dulu resah memikirkan kekalahannya dari Made Dharma. Semua karena Wiraditya merasa tidak puas dengan pelajaran teknis yang diberikan Made Dharma dengan senang hati. Bukan itu yang dia cari. Pada titik ini Wiraditya sudah bisa meraba konsep taksu, meskipun ia tidak tahu konsep itu dinamakan demikian - ia hanya mulai merasakan bahwa apa yang dimiliki Made Dharma dalam dirinya tidaklah mungkin ditransfer seperti uang di mesin ATM. Sesuatu itu bisa jadi bahkan tidak mungkin dipelajari.

Wiraditya semakin kurus, pendiam, tidak bahagia, dan resah memikirkan kegagalan yang membayang di depan mata. Secara tidak sadar, Wiraditya membangun obsesi tertentu terhadap diri Made Dharma. Ia bahkan mulai mengalami mimpi yang sama berulang-ulang: Made Dharma menari dilapisi selubung warna ungu, tampak agung dalam kebutaannya, dan ia berlari menubruk Made Dharma, tetapi selubung ungu tersebut mementalkan tubuhnya. Wiraditya selalu terbangun dari mimpi ini dengan bercucuran air mata.

Dalam kondisi psikologis yang berbulan-bulan kacau seperti inilah, Tuan, suatu malam Wiraditya terbangun dan mendengar suara-suara dari kamar ibunya. Ia segera bergegas menuju kamar tidur tamu yang kosong. Lantas ia memutar menuju kamar ayahnya, dan menemukan suami ibu Wiraditya tertidur dalam posisi telentang. Wiraditya kembali lagi menuju kamar ibunya, mendengarkan dengan dada berdebar-debar suara yang muncul dari dalam.

Tujuh belas tahun merupakan usia yang cukup untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Made Dharma dan ibunya di dalam sana. Pada titik ini, Wiraditya teringat mimpi-mimpinya, dan ia merasa ada api yang mengalir dari matanya. Telinganya menjadi tuli sampai tiga puluh menit lamanya.

Maka Wiraditya tidak mendengar percakapan tertahan ibu Wiraditya dan Made Dharma mengenai kapan waktu yang tepat untuk memberitahu Wiraditya mengenai pertalian darah di antara mereka. Wiraditya juga tidak mendengar suara batin suami ibu Wiraditya yang jantungnya seakan mau berhenti mendengar nama Made Dharma hadir kembali dalam kehidupan mereka.

Wiraditya bahkan tidak mendengar jeritannya sendiri ketika sepotong gading koleksi ayahnya jatuh berkelontang di ubin yang dingin dengan bekas warna merah menetes-netes di ujungnya.

Jakarta, 2010

4 comments:

  1. Asli, ceritanya keren: abis baca, gw sempet mikir, inti ceritanya apa? berarti Andina udah berhasil bawa pembaca, kata Seno G. A, masuk ke dalam teks yg dibuat. Selamat.

    ReplyDelete
  2. @Anon: terimakasih banyak. Semoga bisa dinikmati :)

    ReplyDelete
  3. Saya baru baca cerita ini dari buku bunga rampai yang saya dapat tahun 2010 di teater jakarta saat saya bermain peran di musikal laskar pelangi, dan saya langsung browsing. Cerita yang sangat menarik. Bolehkah saya tanya? Apa relasi made dengan ibu wiraditya sebenarnya? Hubungan pertalian darah tsb apakah persaudaraan? Atau hubungan cinta terdahulu? Thanks mbak andina

    ReplyDelete
  4. Halo, terima kasih sudah baca cerita saya. Hmm, sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu lebih baik ditujukan pada pembaca. Saya memang suka "mengaburkan" beberapa detail agar pembaca bebas menafsirkan, atau bahkan, merancang sendiri cerita versi mereka, yang boleh saja lain dengan maksud saya sebagai penulisnya. Relasi Made dan ibu Wiraditya untuk Anda bisa jadi berbeda dengan pembaca lain, dan itu sah-sah saja. :)

    ReplyDelete