Pages

Realisme Ilmu Pengetahuan

Seberapa pentingnya ilmu pengetahuan? Alexander Graham Bell tidak akan menciptakan telepon dan tidak akan ada iklan lampu karena Edison tidak pernah menemukannya. Demikian pula dengan mesin uap, alat transportasi, alat komunikasi, nuklir, bahkan huruf Braille yang menolong orang buta membaca.

Seiring dengan perkembangan alam pikirannya, sesudah berusaha menundukkan alam, manusia kemudian beralih ke permasalahan sosial. Dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip hukum alam pada perilaku manusia (pendekatan positivistik), tingkah laku manusia bisa dikalkulasi untuk kemudian diprediksi dan diantisipasi, atau dalam satu kata: dikendalikan.

Daya Tarik Ilmu Pengetahuan
Apakah yang membuat ilmu pengetahuan begitu “mempesona”? Tak lain adalah sifat ilmu pengetahuan yang selalu mencari jawaban yang memuaskan atas segala persoalan. Kecenderungan eksplanatoris ilmu pengetahuan memberikan kepuasan tersendiri bagi manusia yang memang kaya akan rasa ingin tahu (curiousity).

Bila ditilik dari sejarahnya, ilmu pengetahuan lahir dari rasa ketidakpuasan manusia atas penjelasan yang dangkal mengenai hal-hal yang terjadi dalam dunia yang dihidupinya. Ketika kepercayaan tradisional yang telah dipelihara oleh manusia secara turun temurun dan bersifat diterima begitu saja tanpa dipertanyakan lagi (taken for granted) mulai dirasa tidak memuaskan, manusia ingin memperoleh penjelasan yang lebih masuk akal.

Menurut Sonny Keraf dan Mikhael Dua (2001), ada 4 hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan kepercayaan manusia akan hal-hal tradisional mulai bergeser. Pertama, pengamatan lawan otoritas. Seperti sudah disinggung, kepercayaan tradisional dihidupi dan dijaga oleh manusia. Hal ini dilakukan demi menjaga stabilitas sosial tempat ia hidup di dalamnya. Kepercayaan tradisional yang disepakati bersama membuat masyarakat berjalan relatif damai, karena konflik atau pertentangan dapat dihindari atas nama dewa/tuhan. Kepercayaan tradisional juga memberikan tempat bagi sekelompok orang yang dianggap lebih ‘tinggi’ derajatnya dari manusia lain, misalnya pendeta, Paus, dan para ulama. Apapun yang terjadi, masyarakat akan mempercayai apa yang dikatakan oleh mereka yang dipandang memiliki otoritas lebih.

Hegemoni semacam ini dilawan oleh ilmu pengetahuan dengan kegiatan observasi. Melalui ilmu pengetahuan, manusia mengamati apa yang terjadi di sekelilingnya. Ketika hasil pengamatannya ternyata berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh otoritas, manusia berani mengatakan yang benar dengan bukti-bukti empiris yang dapat dipertanggungjawabkan. Ilmu pengetahuan telah merintis jalan menuju sifat kritis.

Kedua, otonomi dunia fisik. Ini jelas sebuah daya tarik luar biasa bagi manusia yang terbiasa hidup dalam kepercayaan akan roh-roh halus, dewa-dewi, juga tuhan. Hal-hal yang tadinya hanya bisa dijelaskan dengan sebuah kalimat sederhana seperti “ciptaan tuhan” kini dapat dijelaskan dengan lebih masuk akal.

Ketiga, disingkirkannya sebab final. Ilmu pengetahuan tidak memberi ruang bagi jawaban sederhana yang mengarah pada tujuan akhir, atau yang disebut dengan sebab final. Sonny Keraf dan Mikhael Dua (2001) menjelaskan apa yang dimaksud dengan sebab final lewat contoh sebagai berikut: sekarang ini bila diajukan pertanyaan mengapa banyak orang mati karena kanker, para ilmuwan akan menjawab dengan penjelasan apa penyebab sakit kanker, ketimbang menjelaskan bahwa semua itu sudah rencana Tuhan (sebab final). (p.135) Ilmu pengetahuan menarik sebuah fenomena ke belakang untuk mengurai sebab-sebab terjadinya. Ilmu pengetahuan tidak bicara tentang rencana Tuhan, tujuan akhir, atau sebab final. Ilmu pengetahuan hanya berminat pada masa lampau, bukan masa depan.

Keempat, tempat manusia dalam alam. Dari segi filosofis, semakin manusia menyadari betapa luasnya alam, ia akan merasa semakin kecil. Seperti sering dikatakan oleh para pemuka agama dalam khotbahnya, bila manusia sadar betapa besarnya alam, ia akan merasa bagai setitik debu di lautan. Tetapi, dari segi praktis, manusia justru makin tertantang untuk menciptakan penemuan-penemuan yang memperbesar kendalinya atas alam. Bahwa alam itu luas disadari betul oleh manusia, tetapi toh ia tetap ingin menguasai dan mengendalikannya. Inilah yang dinamakan dengan paradoks.


Realisme Ilmu Pengetahuan
Pada titik dimana manusia puas dengan apa yang dapat dilakukan oleh ilmu pengetahuan (dan hanya ilmu pengetahuan), ia menjadi arogan. Manusia memuja kekuatan ilmu pengetahuan begitu rupa sehingga menafikan pendekatan “non-ilmiah”. Manusia menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran.

David Hume, sang skeptis radikal, pernah memberikan 5 alasan yang membuatnya tidak percaya pada mukjizat. Pertama, sepanjang sejarah tidak pernah ada mukjizat yang disaksikan secara kolektif oleh orang-orang yang cerdas. Kedua, meyakini hal-hal luar biasa adalah kecenderungan tetap manusia. Ketiga, mukjizat hanya terjadi ketika manusia belum maju dalam ilmu pengetahuan. Keempat, tidak pernah ada kesepakatan empiris mengenai mukjizat yang benar. Kelima, menurut Hume, mukjizat adalah tafsiran para nabi belaka untuk memperkenalkan ajaran iman yang baru. (Fransisco Budi Hardiman, 2004)

Ketika Hume mengatakan bahwa mukjizat hanyalah tafsiran para nabi, kita harus mengajukan satu pertanyaan padanya. Tidakkah ilmu pengetahuan juga merupakan tafsiran ilmuwan atas dunianya? Lantas apa yang membedakannya dengan mukjizat? Bukti empiris, maupun deduktif-induktif hanyalah salah satu metode yang digunakan untuk membuktikan keabsahan ilmu pengetahuan, tetapi baik empirisisme dan falsifikasi sebenarnya juga merupakan hasil dari tafsiran manusia sendiri. Apakah hal di dunia ini yang bukan merupakan penafsiran? Tidak ada. Dunia ini adalah life-world yang subyektif, ilmu pengetahuan tidak boleh membuatnya menjadi mekanistis.

Jean Jacques Rousseau yang terkenal dengan Romantismenya suatu saat pernah mengkritik pencapaian pada zaman Pencerahan (F. Budi Hardiman, 2004). Menurut Rousseau,

Pencerahan memandang mitos-mitos dan emosi-emosi subjektif manusia sebagai belenggu yang harus dipatahkan dengan rasio, sedangkan Romantisme sebaliknya memandang kebudayaan yang dihasilkan oleh rasio itulah yang membelenggu manusia. (p. 114)


Di sinilah kita bisa menengok ajaran Paul Karl Feyerabend tentang anarkisme ilmu pengetahuan. Anarkisme yang dimaksud Feyerabend adalah anarkisme epistemologis, sebuah keberanian melawan kemapanan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mengembalikan manusia pada kebebasan berpikir yang sesungguhnya. Feyerabend beranggapan bahwa arogansi ilmu pengetahuan pada akhirnya akan mencederai ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan lahir dari keinginan untuk melawan tatanan otoritas, jadi ia tidak boleh menjadi tatanan otoritas baru. Ilmu pengetahuan harus selalu terbuka pada kritik, ia harus bersedia disalahkan.

Dalam bahasa Karl Raimund Popper, kemampuan falsifikasi ilmu pengetahuanlah yang justru makin meneguhkan keabsahannya. Semua pengetahuan manusia sifatnya sementara, hipotesis subjektif belaka, karenanya tidak ada yang bisa mengklaim ilmu pengetahuan lebih benar dibandingkan pendekatan yang lain.

Ilmuwan selalu membanggakan ilmu pengetahuan dari segi metode sistematisnya yang diyakini dapat membawa manusia lebih dekat pada kebenaran. Ini juga dikritik oleh Feyerabend. Ia mengajukan dua prinsip (bukan metode) sebagai gantinya, yaitu prinsip pengembangbiakan dan prinsip apa saja boleh (anything goes). Prinsip pengembangbiakan berarti manusia boleh mengikuti kecenderungan subjektifnya untuk mengembangkan pemikirannya, tanpa ada yang menindas dan mengatakan bahwa pemikirannya itu salah. Sedangkan prinsip apa saja boleh (anything goes) mengarah pada kebebasan bagi segala sesuatu di dunia ini untuk berjalan begitu saja tanpa banyak diatur dengan metode dan cara-cara. Inilah sesungguhnya anarkisme ilmu pengetahuan menurut Feyerabend.

Untuk memberi tempat bagi kebebasan berpikir yang sesungguhnya, Feyerabend pernah mengumandangkan sikapnya yang anti-ilmu pengetahuan. Sebuah sikap yang sepintas terdengar aneh, terlebih bila mengingat bahwa Feyerabend sejatinya juga adalah seorang ilmuwan. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan yang dimaksud Feyerabend adalah ilmu pengetahuan yang tertutup, kaku, mengklaim absolut, dan segala bentuk arogansi demi kekuasaan lainnya. Feyerabend ingin agar ilmu pengetahuan kembali ke sikapnya yang selalu bertanya, dengan demikian bersedia untuk dipertanyakan lagi, untuk menjaga agar ia tidak menjadi tatanan baru yang hegemonik.

Feyerabend juga mencita-citakan sebuah realisme ilmu pengetahuan, yaitu keadaan dimana ilmu pengetahuan bersifat terbuka dan memberikan kontribusi konkret bagi kehidupan manusia (Prasetya TW, 1993). Menurut Feyerabend, realisme ilmu pengetahuan terwujud saat

teori, sistem pemikiran, bentuk kehidupan, dan kerangka pandang diterapkan dalam bentuknya yang paling kuat, bukan sebagai skema bagi proses kejadian yang kodratnya ditentukan oleh pertimbangan dari luar, melainkan sebagai penentu kodratnya. (p.59)

Dalam rangka realisasi ilmu pengetahuan, para ilmuwan (dan masyarakat pada umumnya) selayaknya mulai berlatih berpikir terbuka. Bahwa perbedaaan itu sesuatu yang niscaya sudah sering didengung-dengungkan, namun kenyataannya arogansi terus berjalan. Ilmu pengetahuan, seperti kata Feyerabend, hanyalah salah satu cara untuk mengungkap kebenaran. Faktanya, kebenaran pun tidaklah tunggal. Biarlah setiap manusia mengungkapkan kebenarannya sendiri dengam cara masing-masing. Bila penghargaan akan eksistensi semacam ini sudah terbangun, manusia akan lebih bijak memandang hidupnya, niscaya dunia pun akan menjadi tempat yang lebih indah untuk ditinggali.

3 comments:

  1. ilmu pengetahuan sekarang malah jadi mitos... dianggap keramat, tanpa cela...

    ReplyDelete
  2. @ Anon.: persis. maka dari itu orang jadi memberhalakan ilmu pengetahuan, sehingga ia makin jauh dari realisme dan kegunaan yang semestinya.

    ReplyDelete
  3. kalo saya justru berpikir sebaliknya bahwa ilmu penetahuan sekarang jadi makin pragmatis, dan itu yang menyebabkan ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang mentradisi, bukan dalam arti positif, melainkan ilmu pengetahuan ibarat sesuatu yang diulang-ulang tanpa kita paham untuk apa mempelajarinya...
    pengambil sampah tidak mesti berbicara mengenai Kant untuk menjelaskan etika mereka ketika sedang bekerja, karena itulah mereka menjaga pengetahuan mereka yang empiris agar tetap hidup... maksud saya motif manusia berilmu pengetahuan bukan untuk tahu, rasa ingin tahu, melainkan sebaai ajang simbolik...

    ReplyDelete