Pages

The Bucket List

Layaknya Edward Cole dan Carter Chambers, sepasang pria sekarat lanjut usia dalam film The Bucket List (2007), di bawah ini saya menyusun 10 hal yang ingin saya lakukan sebelum mati:

1. Menulis buku-buku bagus, dan menerbitkannya.
2. Menikmati senja di Santorini, Yunani.
3. Menyaksikan pertandingan Newcastle United versus siapa-aja LANGSUNG di St. James' Park, dan duduknya bareng Alan Shearer. Terus ngobrol-ngobrol dan kepalanya saya toyor karena sudah membuat Toon Army menikmati pahitnya Divisi Satu.
4. Makan malam berdua Haruki Murakami. Lanjut minum sake.
5. Kuliah lagi, ambil Filsafat dan/atau Kajian Budaya, terus ngajar.
6. Bermalam berdua dengan orang yang saya cintai di sebuah pantai.
7. Punya anak.
8. Ziarah ke Jerusalem.
9. Mabuk gila-gilan pas Oktoberfest di Munich.
10. Bercinta dengan Kau-Tahu-Siapa*.. :)



*bagi para penggemar Harry Potter, bukan, yang saya maksud bukan Lord Voldemort.

11 comments:

  1. amen sister !!!!

    *sambil mengangkat gelas bir..atau kopi? atau bir campur kopi? (ga kebayang rasanya :p)*

    ReplyDelete
  2. amen brother!!! *sambil mengangkat gelas vodka.. eh?

    mau dong lihat Bucket List kamu :D

    ReplyDelete
  3. Sy pikir film ini tidak bercerita ttg 10 hal yg ingin dilakukan spt konteks permintaan terakhir org yang mau dihukum mati. Jadi membuat 10 hal permintaan oleh pemirsa sy pikir hal yg naif. Bukan krn menyangsikan kemampuan finansial pemilik wish, tp krn film ini bukan ttg itu. Tapi agar pemirsa bisa menyadari to live their life fully so in the end dont regret any single thing.
    Anyway, pilihan filmnya bagus. Rekomen lg dong yang lain.

    Cheers.

    ReplyDelete
  4. @Anonymous: "Jadi membuat 10 hal permintaan oleh pemirsa sy pikir hal yg naif." --> 10 hal permintaan oleh pemirsa ini maksudnya apa ya? *bingung*

    Adapun soal menjalani hidup sepenuh-penuhnya (saya rasa yang anda maksud adalah 'to live their life to the fullest'), saya sepakat. Dan itulah mengapa saya menganggap yang dilakukan Edward dan Carter inspiratif.

    ReplyDelete
  5. Sory kalimatku bikin kamu bingung. Justru inspiratifnya film ini yg aku maksud. Kalau org2 yg menonton film ini (pemirsa) habis menonton lalu berusaha mendaftar
    bucket list masing2, pointnya si pembuat film jadi gak kena. Sebagai pembaca blogmu sy berharap membaca tulisan ttg efek inspiratifnya itu.
    Tp yang namanya menulis bebas toh? :D *Sy yang salah berekspektasi brarti* Cuman agak geli aja ngebayangin, katakan ada 100 orang yg nonton film ini, lalu habis nonton mereka yg kepikiran bikin list masing2.

    ReplyDelete
  6. @Anonymous: Membuat Bucket List hanyalah salah satu bentuk resepsi yang mungkin dilakukan penonton. Dan resepsi itu sesuatu yang sifatnya subyektif belaka. Jadi, kalau ada 100 orang menyaksikan film ini, bisa jadi ada yg membuat Bucket List, lukisan, cerita pendek, lagu, atau enggak ngapa2in (bentuk penerimaan juga kan? :D) - intinya mah itu bukan sesuatu yang sifatnya tunggal dan pasti.

    ReplyDelete
  7. amen sista !!!

    ReplyDelete
  8. @ anonymous : kalau gara2 film ini ada 100 orang yg ikutan bikin list menurut saya gpp jg, setidaknya ada 100 org lg yg sadar akan pentingnya sebuah "keinginan" dan merealisasikan "keinginan" itu..coba pikir, berapa banyak orang yg skrg hidupnya seperti robot, bangun pagi pulang malam, tanpa pernah memikirkan hal2 seperti apa yg benar2 mreka inginkan? banyak juga loh, hehe..

    @ andin : haha iya ndin, ak juga pernah nulis yg mirip, judulnya "dear future me in 2020"

    ReplyDelete
  9. aku pikir, daftar list itu biar orang yang masih hidup jadi terus optimis dengan hidupnya, dan suatu saat ketika ia mati, ia bisa puas dengan apa yang telah dilakukan...
    meski kepuasaan itu bersifat naik turun, mungkin ketika mau mati ia mau minum teh anget, siapa tahu?
    efek dari film itu bisa lahir apa aja, salah satunya list tsb...

    ReplyDelete
  10. Saya sedang baca2 dari awal thn.2008. Sampai di sini kok rasanya capek juga ya ngelihat ada aja yg komen sok serius, sok memberatkan pembahasan bahkan menarik semua hal ke dunia filsafat seperti komentator you-know-who, padahal saya pikir gak nyambung sama maksudnya. Terkadang saya melihat tulisan kamu yg sedang menertawakan diri sendiri, otokritik, tapi komennya teteup aja ya-gitu-deh.

    ReplyDelete
  11. @Kleine: Beberapa orang memang terlalu serius memandang dunia ini, termasuk kadang terlalu serius memandang dirinya sendiri. Padahal kalo kata orang Jawa, hidup ini kan cuma mampir minum :))

    ReplyDelete