Pages

Phobia

Suatu hari, di smooking room kantor, berkumpullah saya, Noven (reporter), Siska (sekred), dan Angga (graphic designer). Waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Lagi ngobrol santai, tiba-tiba datanglah Gugun (fotografer) sambil cengar-cengir. Dia nunjuk Angga sambil bilang, "Nih si Angga, namanya diganti aja, jadi Anggaphobia."

Anak-anak ketawa, Gugun cengar-cengir, dan si Angga pucet.

Kemudian berceritalah si Gugun. Jadi beberapa hari sebelumnya, dia dapat jatah motret CEO sebuah perusahaan otomotif top di Jakarta. Kebetulan si Angga ikut. Gugun, yang memang terkenal suka 'ngerjain' narasumber, meminta sang CEO untuk foto di atap. Pas semuanya udah naik, si Angga tereak-tereak. Ternyata dia cuma kuat naik setengah tangga, karena tiba-tiba kakinya gemeteran. Abislah dia dicengin semua orang.

Setelah puas ngeledek Angga, kami ngebahas ketakutan masing-masing. Saya diam-diam punya ketakutan yang sama dengan dia, yaitu takut ketinggian. Siska takut ngeliat air yang dalem. Kami lalu ngebahas segala aspek menyangkut ketakutan, seperti trauma masa lalu, teori yang bilang kalau phobia itu bisa disembuhkan dengan hipnosis, phobia-phobia yang nggak lazim seperti takut karet gelang, takut badut, dan seterusnya.

Pembicaraan sedang hangat ketika Noven yang sedari tadi diem aja, ditanya begini:

Saya: "Kalo elo Ven, phobia apa aja?"
Noven: "Hmm. Ketakutan gw cuma satu, Din."
Saya: "Apa itu?"
Noven: (sambil menatap ke kejauhan) "Takut berbuat dosa..."

Semuanya langsung berhasrat lompat dari jendela sambil ngiris pergelangan tangan.

4 comments:

  1. cerita yang lucu.

    ReplyDelete
  2. semua hal bisa dijadikan lelucon, termasuk dosa dan pahala...
    :D
    inilah manusia... :D

    ReplyDelete
  3. Saya rasa kita meniru perilaku Tuhan. Bukankah ketika kita berpikir, Dia tertawa? :D

    ReplyDelete