Pages

Bukan Egois, Bukan Pula Altruistik: Ini Tentang Merasa Cukup Dengan Diri Sendiri

Seorang teman baik memberi saya mantra, "To have yourself is already more than enough. You just don't need to have someone else."

Bukan. Ini bukan excuse menyedihkan dari kegalauan berkepanjangan atau kesepian. Teman baik saya itu sedang memberikan pandangannya terhadap eksistensi manusia dan sejauh mana ia membutuhkan keberadaan manusia lain dalam hidupnya.

Saya kenal banyak orang yang mendasarkan eksistensinya pada keberadaan orang lain. Contoh paling gampang adalah pasangan suami istri. Sebelum menikah, seorang perempuan dipanggil Nona X. Sesudah menikah, ia merelakan dirinya disebut Nyonya Y, yang artinya kurang lebih "nona-X-yang-sekarang-sudah-jadi-istri-tuan-Y". Secara nggak sadar, eksistensi si nona X di dunia ini sudah lebur dalam identitas suaminya. Kalau suaminya mati, atau mereka bercerai, lantas siapakah Nyonya Y? Apakah dia akan disebut Janda X, atau lebih parah, Jandanya Tuan Y? Oh, itu seperti kutukan yang penawarnya tidak sesederhana ciuman pangeran.

Saya belum pernah menikah, dan tidak ingin menghakimi, tapi penasaran juga: itukah yang terjadi ketika kita memutuskan untuk hidup bersama dan membangun keluarga? Apakah para istri kemudian menjadikan suaminya sebagai pusat kehidupan mereka? Apakah suami lantas menjadi segala-galanya, menjadi alasan keberadaan dan sandaran kehidupannya? Kalau memang iya, berarti pernikahan memang sesuatu yang menakutkan. Bagaikan melakoni gagasan "tanpa dia, saya tidak bisa hidup", padahal kalimat itu hanya bagus untuk teks lagu pop dan rayuan gombal. Untuk dihayati, terlalu riskan.

Hal ini berlaku juga untuk bentuk-bentuk hubungan yang lain. Anak dengan orangtua, kekasih dengan pasangannya, murid dengan gurunya, adik dengan kakaknya, penggemar dengan idolanya - bisa apa saja. Begitu kita mulai merasakan adanya tanda-tanda ketergantungan, di situlah sesungguhnya diperlukan tindakan meninjau kembali makna individualitas kita sendiri.

Dan kembali ke pertanyaan besarnya: sejauh mana kita membutuhkan orang lain?

Ryan Bingham, tokoh motivator dan pemecat ulung dalam film Up In The Air punya teori bahwa dalam hidup, masing-masing dari kita menggendong sebuah tas. Dan apakah yang paling membuat bobot tas itu jadi berat, dan kita jadi terbungkuk-bungkuk membawanya? Hubungan antarmanusia. Ryan bilang, "Make no mistake, your relationships are the heaviest components in your life." Saya sependapat. Punya hubungan dengan orang lain memang memberikan kita rasa aman dan nyaman, minimal bahwa di dunia ini kita tidak sendirian, tetapi pada saat yang sama "ongkos perawatan" hubungan itu bisa membikin "kantong bolong" kalau kita tidak pintar mengaturnya.

Orang lain adalah pelengkap keberadaan kita. Seperti Royco dalam sup ayam, orang lain membuat cerita hidup kita lebih gurih (walaupun ada kemungkinan keasinan dan jadi bego karena overdosis MSG). Kita bisa memilih membubuhkannya atau tidak, atau seberapa banyak kita mau menggunakannya, atau malah tidak memakainya sama sekali.

Pada akhirnya, yang manusia punya adalah dirinya sendiri. Dan itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

5 comments:

  1. eksistensi ya..ga ada abisnya ngobrolin yg satu ini..

    "Punya hubungan dengan orang lain memang memberikan kita rasa aman dan nyaman, minimal bahwa di dunia ini kita tidak sendirian, tetapi pada saat yang sama "ongkos perawatan" hubungan itu bisa membikin "kantong bolong" kalau kita tidak pintar mengaturnya."

    true.

    ReplyDelete
  2. to have ourselves is the biggest comfort in life :)

    ReplyDelete
  3. udah baca hubungan Sartre sma Simone de Beauvoir? Mgkin bsa djadikan jawaban pertanyaan ttg eksistensi individu dlam hdp berpasangan... aau bsa mengkaji ulang apa itu eksistensi dlam hubungan individu...
    tapi saya mash percaya, klao org lain emg neraka kita, sebagai makhluk individu... itu kata Sartre jga...

    ReplyDelete
  4. Nah. Jika orang lain adalah neraka, apakah lantas menjadi tidak mungkin bagi seorang manusia untuk memelihara hubungan dengan orang lain dalam hidupnya? Atau justru anggapan "orang lain adalah neraka" bisa membantu kita menciptakan semacam eksistensi diri yang teguh dan utuh, sehingga bagaimana pun gentingnya keadaan, kita tetap tidak kehilangan diri sendiri? Bisakah kita mencintai, tapi tetap mandiri?

    Bahkan Sartre pun ternyata sanggup mencintai de Beauvoir seumur hidupnya :)

    ReplyDelete
  5. kalau menjadi pasangan, sepertinya eksistensinya melebur kepada tujuan untuk apa mereka berelasi...
    karena pernikahan bukan sekadar relasi biasa, karena sudah membuat semacam kehidupan baru di luar dirinya...
    memang belum ada penelitian kalau hubungan secara biologis bisa membuat kehidupan orang itu satu secara ruhani, tapi proses dan hasil dari hubungan biologis mengarah ke sana...

    ReplyDelete