Pages

Tukang Ojek Honoris Causa

Semasa masih ngantor, beginilah rute pulang saya: dari Blok M menumpang Metro Mini 611 menuju Lebak Bulus, dilanjutkan angkot D.01 menuju Pasar Ciputat. Rute ini bisa divariasikan dengan naik Metro Mini 610 jurusan Pondok Labu, turun di halte Panglima Polim, lalu mencegat bus AC/non AC langsung menuju Pasar Ciputat. Rute kedua diambil bila jam pulang saya bertepatan dengan kepulangan suporter Persija dari Senayan. Kalah atau menang, bagi saya reaksi JakMania sama saja: berteriak-teriak, selalu tampak ingin menantang berkelahi, dan hal terakhir yang saya inginkan adalah terjebak di Lebak Bulus bersama para militan ini.

Nah, dari kedua rute berbeda itu, ada satu persamaannya: ketika sampai di Pasar Ciputat, saya akan naik ojek sampai ke rumah. Dan cerita tentang tukang ojek itulah yang akan jadi tema perbincangan kita kali ini.

Jasa pelayanan ojek di Pasar Ciputat sungguh luar biasa bagusnya. Kalau kita naik angkot, di bawah flyover sudah menanti para ojekers berbaris rapi di atas motor. Dan ketika kita bilang “Kiri, Bang.” sambil membayar ongkos, ojekers akan langsung mengacungkan jari (bukan, bukan jari tengah) pada kita sembari dengan sopan bertanya, “Ojek, Mbak?”

Hal sama juga berlaku kalau kita naik bus. Lewat flyover, bus akan berhenti di depan Ramayana dan memuntahkan seluruh penumpangnya (biasanya disertai ujaran khas, “Terakhir, terakhir!”).

Kita baru menyeberang saja, para tukang ojek ini sudah ramai menawarkan jasa baiknya dengan begitu antusias sehingga yang perlu kita lakukan hanya menganggukkan kepala, balas melambai, atau mengedipkan mata kalau mau sedikit genit.

Saya tidak pernah pilih-pilih tukang ojek. Selain agak sulit mengenali kondisi motor yang bagus dan pengendara yang agak ganteng di antara remang-remang lampu pasar, saya memang tidak ingin direpotkan dengan hal-hal semacam itu. Perjalanan pulang dari pasar menuju rumah tidaklah terlalu jauh, dan itu bisa ditempuh naik ojek yang baik motor maupun tampang pengendaranya biasa-biasa saja. Lagipula, agak mengerikan membayangkan ketimpangan ekonomi yang akan terjadi jika hanya ojekers dengan motor bagus dan tampang ganteng yang punya pemasukan.

Entah mengapa, ojek-ojek yang saya naiki selalu dikendarai oleh pengendara yang gemar bercakap. Tidak pernah jelas bagi saya apakah mereka ini pada dasarnya senang mengobrol, atau ada sesuatu dengan tampang saya yang membangkitkan naluri curhat mereka. Ada satu tukang ojek yang bisa saya buat menceritakan pengalaman hidupnya sejak jadi satpam Bank BNI, kena PHK, ikut demo, masuk penjara, banting setir jadi tukang ojek, dan di pagi hari ikut menjaga warung istrinya – dalam perjalanan pulang yang makan waktu paling banter 15 menit saja.

Nah, di antara deretan tukang ojek yang pernah mengantar saya pulang, ada satu yang paling berkesan dan masih saya ingat sampai sekarang. Tentu bukan tampangnya, motornya, apalagi namanya, melainkan perbincangannya. Alih-alih curhat, si tukang ojek ini berwacana. Perhatiannya pada hal-hal makro agak mencengangkan saya.
Dalam perjalanan yang hanya 15 menit itu, dia membahas beberapa konsep tentang nasionalisme. Semua diawali dengan komentar iseng saya terhadap tumpukan sampah di kompleks pasar yang tidak beres-beres penanganannya sehingga bentuknya jadi lebih mirip gunungan. “Ya, begitulah jika pemerintahan kota masih terlalu hijau, tapi sudah dipaksakan mengatur banyak hal, Mbak. Mengurus sampah saja tidak becus.” (baru-baru ini daerah tempat tinggal saya memang memeroleh nama baru, Kota Tangerang Selatan – hasil pemekaran.)

“Nama boleh baru, tetapi tidak mengubah apa pun. Yang untung tetap orang di atas, sekarang mereka punya banyak saluran dan payung baru untuk semakin mengeruk dana,” katanya.

Saya manggut-manggut. Wuih. Pilihan katanya boleh juga.

Dari situ obrolan kami berkembang. Ia makin bersemangat ketika membicarakan mental pejabat. Menurutnya, korupsi kolusi nepotisme dan sebagainya terjadi karena rasa cinta pada bangsa sudah luntur. “Kalau sudah tidak cinta, menyiksa seperti apa pun tega-tega saja kan, Mbak?”

Saya manggut-manggut lagi. Masuk akal.

“Mbak tahu apa yang saya pikirkan sebagai solusi meningkatkan nasionalisme?” dia bertanya. Saya bilang tidak, sebab itu pasti reaksi yang diinginkan si orator ini. “Wajib militer, Mbak! Itu jalan keluar paling ampuh. Apalagi yang masih muda-muda ini. Kalau hanya pakai batik dan nyanyi Padamu Negeri, itu sih semua orang bisa. Tapi wajib militer jelas akan memberi pengalaman langsung tentang bagaimana mencintai negara ini.”

Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Pak, kalau itu terjadi, yang pasti akan muncul adalah calo atau makelar sertifikat atau joki wamil. Nasionalisme sih belum tentu.”

Ia ikut tertawa, mungkin menyetujui ucapan saya, atau miris melihat belum-belum idenya sudah dimentahkan oleh satu anggota spesies ‘yang muda-muda’.

“Selain bisa meningkatkan nasionalisme, wamil juga melatih kebersamaan lho, Mbak.” Ia masih membela konsep wamilnya. “Orang-orang tidak mau wamil itu menunjukkan egoisme dan individualisme berlebihan, dan itu justru harus dihapus.”
“Gitu ya, Pak.”
“Mbak tahu apa penyebab individualisme berlebihan itu?”
Lagi-lagi saya bilang tidak.
“AC!” jawabnya mantap.
“AC?” saya kaget.
“Iya, AC. Pendingin ruangan. Orang di rumah pakai AC, semua jendela dan pintu ditutup supaya dinginnya maksimal. Tetangga mau mampir jadi segan. Di mobil pakai AC juga, boro-boro bisa berbincang dengan tukang koran atau penjual makanan. Di kantor juga pakai AC. Pulangnya di mobil setel AC lagi, sampai di rumah begitu juga. Orang jadi egois karena memikirkan kenyamanannya sendiri. Tidak sempat bersosialisasi dengan masyarakat yang tidak selapis dengan dirinya.”

Wow. Saya langsung membayangkan sebuah tesis berjudul: “Dampak Pendingin Ruangan Terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

“Idealnya ada pengaturan tentang pemakaian AC, Mbak. Barangkali bukan dihapuskan sama sekali. Ya, dikurangi sedikit-sedikit. Akan berguna juga untuk mengurangi dampak pemanasan global.“ Ia masih melanjutkan.

Di bangku boncengan, saya tersenyum. Betapa idealisnya orang ini. Kalau sampai ada regulasi tentang pemakaian AC, tidak terbayang aksi protes yang akan dilakukan para kapitalis, juga orang-orang yang terlanjur menerima kibul pendingin ruangan dengan teramat konsumtif. Tetapi, ide adalah ide. Saya merasa tidak punya hak untuk sekali lagi mementahkan gagasan beliau, si tukang ojek pemuja wamil.

Malamnya, cerita ini saya sampaikan pada seorang kawan via pesan singkat. Dan balasannya sungguh membuat saya tertawa lepas:

“Barangkali dia bergelar honoris causa.”

8 comments:

  1. Penggambaran yang unik, mengalir dan menarik. Saya tunggu kisah berikutnya..Salam kenal dari Pariman Siregar (www.pmantrainer.blogspot.com)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih dan salam kenal juga, Pak Pariman Siregar.

    ReplyDelete
  3. Kenapa tidak? Bahkan dulu Sokrates seorang pemahat, Muhammad pedagang, bahkan insiyur banyak yang menyusahkan. Ini juga impian orang seperti Andina, setiap manusia mampu berpikir sendiri.
    Konsep wamilnya saya setuju, tapi Andina sudah mempermasalahkan akibat buruk dari itu? Ini masalah teknis. Menurut saya wamil itu jalan untuk membangun kekuatan dasar negara.

    ReplyDelete
  4. Bung Wan, pertama-tama izinkan saya mengingatkan: ini mimpi si Tukang Ojek. Saya hanya sebatas menceritakan ulang :)

    ReplyDelete
  5. oh cuman mimpi, mimpinya aja bagus bgt.

    ReplyDelete
  6. I think you and your writing is simply sexy and beautiful.

    ReplyDelete
  7. Ceritanya seru!!! bikin ngakak..good hand Andin... apalagi sy tau betul keadaan Ciputat dan sekitarnya.. gak sabar bisa ketemu lagi, ngobrol2..(ngakak2?) terus menulis!! (Hj)

    ReplyDelete
  8. @Hijrah: makasih ya, sampai ketemu lagi.

    ReplyDelete