Pages

Godaan Hunian Idaman

Kita-kita yang rada mau berpikir pastilah sadar bahwa televisi –dulu dan kini- adalah agen penyebar segala macam pandangan dan gagasan paling praktis. Mulai dari kampanye presiden sampai gosip artis, sejak iklan kecap a-be-se sampai ajakan memakai kartu kredit ‘agar dunia dalam genggaman anda’.
Tidak seperti media lain yang menuntut segmentasi, di televisi apapun bisa ditayangkan. Semuanya ada. Bagaikan toserba. Julukannya saja kotak ajaib, dan ini pas betul. Buktinya masyarakat kita rela ikut kuis siapa paling tahan lama nonton televisi (sambil berdiri lagi!), yang ujung-ujungnya berhadiah televisi juga. Bayangkan ironinya: lomba konsumsi dengan hadiah yang mendorong agar lebih konsumtif lagi. Ajaib toh?
Perkara konsumtif ini belakangan kok ya terasa agak sensitif. Kita sudah tahu kalau hampir semua yang seliweran di televisi hendak merayu kita untuk membeli. Sekali lagi, membeli. Membujuk kita untuk mengeluarkan sesuatu, bukan mengkreasikan sesuatu. Membuat otak kita pasif, bukan aktif.
Tapi coba lihat promo hunian yang muncul tiap akhir pekan. Memang sih dia mempromosikan papan, sebuah aspek yang vital selain pangan dan sandang. Hanya saja, konsep yang ditawarkan dan caranya menawarkan itu lho. Penuh bujuk rayu yang sungguh sangat tidak edukatif.
Menonton acara ini membuat saya teringat ungkapan khas orang Jawa: ngono yo ngono ning yo aja ngono. Apakah mempromosikan rumah harus dengan konsep yang memperbudak masyarakat Indonesia agar semakin konsumtif? Dan apakah harus dengan gaya dandanan, dan bahasa tubuh para pembawa acaranya yang disetel se-menggoda mungkin?
Fenny Rose (nah, terpaksa harus sebut nama) biasanya membawakan acara ini bareng dengan komedian Ulfa Dwiyanti atau Miing Bagito. Busana Fenny berganti-ganti, tapi selalu wah. Yang pasti tidak terlihat seperti orang yang mau melihat-lihat rumah. Gaun terusan dan rambut yang disasak tinggi seperti semak-semak adalah kombinasi favoritnya.
Dilihat sepintas lalu kita bisa enteng berkomentar bahwa memang begitulah seharusnya pakaian pembawa acara. Tapi kalau mau iseng cari perkara, kita bisa katakan Fenny Rose tidak sembarang berdandan. Dirinya mencitrakan kaum urban. Gaun terusan dan rambut disasak kan sangat mo-de-ren dan berbau Barat, ciri khas kaum social climbers. Soalnya, mereka inilah yang paling potensial dicekoki segala impian mengenai hunian idaman.
Selesai dengan busana, mari beralih ke pilihan kata. “Wah! Luar biasa! Sulit dipercaya! Siapa sih yang enggak mau punya rumah dengan Mall of Indonesia sebagai halamannya?” Seolah-olah masyarakat Indonesia harus membelanjakan uangnya setiap hari. Beli, beli, dan beli.
“Bayangkan kemudahannya! Belanja setiap hari hanya seperti menyeberangi teras lho! Sungguh jenius ide pengembang kita ini!” Saking jeniusnya, ‘pengembang kita ini’ mengganti ide tentang teras rumah yang tadinya untuk tempat leyeh-leyeh di sore hari, menjadi lapangan belanja yang penuh gaya. Dan kita menurut saja.
“Yang ini adalah Ancol sebagai halaman rumah Anda! Sungguh mengagumkan!” Memangnya manusia Indonesia adalah masyarakat yang begitu haus akan hiburan sehingga tiap hari harus pergi berwisata? Apakah memang kita begitu menyedihkannya? Lagipula, tempat wisata yang didatangi setiap hari toh pada akhirnya akan terasa seperti bukan wisata lagi, melainkan kebiasaan semata.
“Memiliki hunian ini memang luar biasa. Jika perlu belanja kebutuhan sehari-hari, tinggal telpon. Ada layanan supermarket yang akan mengantarkan pesanan langsung ke kamar apartemen Anda. Sungguh praktis!” Bagus, didiklah masyarakat Indonesia jadi pemalas-pemalas unggul. Mau beli sayur atau bumbu dapur saja harus angkat telpon. Boro-boro mau angkat pantat dan pergi ke pasar tradisional.
Perhatikanlah bahwa kalimat-kalimat bujuk rayu di atas diucapkan dengan nada penuh kekaguman. Banyak tanda seru di sana. Gesturnya pun pas bener. Mata melotot kaget, senyum girang lebar bukan main, dan lambaian tangan yang berarti it’s too good to be true ketika mengucapkan ‘bisa dicicil dengan bunga nol persen!’ hanyalah beberapa di antaranya.
Hal ini membuat kalimat-kalimat di atas, meskipun berisi dobos belaka, terkesan sungguh meyakinkan. Para penonton di rumah ikut membelalakkan mata. Seperti mendapatkan pencerahan. Dalam hal ini Fenny Rose dan kawan-kawan menempatkan diri mereka sebagai juruselamat bagi masyarakat yang selama ini, alangkah begonya, tidak bisa menentukan sendiri hunian seperti apa yang pas untuk mereka.
Seno Gumira Ajidarma pernah menulis bahwa sesungguhnya kita ini terancam menjadi manusia-manusia kodian, yaitu manusia-manusia yang pola pikirnya (di)seragam(kan). Termasuk masalah mimpi. Sadar atau tak sadar, impian kita tak pernah jauh berbeda: lulus kuliah, kerja di perusahaan besar, punya rumah dan mobil mewah, tapi sekali-sekali masih bisa liburan ke luar negeri.
Hemat saya, ini jugalah yang sedang diusahakan oleh para pengembang properti lewat acara promosi di televisi. Impian kita sedang disamakan. Kita dididik untuk punya cita-cita yang seragam, yaitu memiliki hunian dengan pusat perbelanjaan raksasa sebagai halaman. Mau atau tidak? Kita yang memutuskan.

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 5 Juli 2009)

3 comments:

  1. sebenarnya, kalau menurut saya ini masalah etika iklan? Dari berbagai argumen saya lhat adina kurang begitu suka penanaman nilai atau adat konsumtif iklan kepada masyarakat. inilah konsekuensi sistem yang lebih besar, bukan ini api, melainkan asap. Dan kalau begitu, asap ini butuh dihilangkan, alias memadamkan api, atau setidaknya menghilangkan sumber. Ibarat kayu yang dibakar oleh api yang tersulut oleh sesuatu, berarti sang kay dan penyulut harus dihilangkan atau direduksi sejauh mungkin. Dan andina lebih tahu penyebabnya itu. Andina menyinggung edukasi alias pendidikan, ini bagus, setidaknya memang edukasi berperan besar menanamkan nilai-nilai dalam masyarakat. ada beberapa hal yang saya perhatikan dalam tulisan ini, andina terkesan subjektif dalam beragumen, dan tidak menggiring pembaca kepada sesuatu, melainkan menariknya dengan beberapa pertanyaan. Aku menunggu tulisan berikutnya.

    ReplyDelete
  2. Sebetulnya ini tulisan yang utopis. Anda benar, saya tidak suka penanaman nilai atau adat konsumtif iklan kepada masyarakat. Tetapi bukankah memang itu natuur dari iklan? Bukankah memang maunya membujuk, dan kemudian mendapat laba sebanyak-banyaknya? Saya sadar itu tidak bisa diubah, apalagi oleh seorang penulis pemula seperti saya (wong yang sudah kaliber saja belum tentu berdaya, he he). Saya hanya ingin mengajak pembaca berpikir, dengan memberi alternatif lain.

    Dan karena itu, Anda benar lagi, saya menulis dengan subjektif. Tetapi apa sih di dunia ini yang tidak?

    ReplyDelete
  3. Aku jadi berpikir, iklan yang cerdas dan mencerdaskan itu?

    salam
    Wan :)

    ReplyDelete