Pages

Ujung-ujungnya Tampang


Jika Anda ingin berkecimpung di dunia hiburan, yang pertama harus diperhatikan adalah tampang. Produser manapun pasti lebih memilih pendatang baru dengan suara pas-pasan tapi tampang yahud daripada sebaliknya, sebab kita tahu bahwa operasi plastik lebih mahal daripada kursus menyanyi.
Nah, bahwa dunia hiburan kita mensyaratkan tampang di atas segalanya adalah rahasia umum. Kita tidak pernah tahu kenapa persisnya masyarakat kita begitu menyenangi yang tampil di teve adalah orang-orang yang enak dilihat secara fisik ketimbang mereka yang mukanya biasa saja tapi punya suara indah atau akting memesona.
Bisa jadi masyarakat kita sebegitu terpengaruhnya dengan sindrom pascapenjajahan sehingga merasa diri jelek punya kulit coklat, hidung pesek, dan badan mungil. Rasa rendah diri ini kemudian diproyeksikan menjadi tuntutan batin untuk melihat yang cakep-cakep. Tapi ini sekadar dugaan. Apapun kemungkinannya, realita sudah bicara.
Mencermati fenomena pemujaan terhadap tampang, adalah menarik untuk mengamati acara ajang bakat Mendadak Artis yang disiarkan TPI tiap Kamis jam 20.00 malam. Acara yang dipromotori Benny ‘Contoh Management’ ini mengklaim bisa menyulap orang biasa jadi artis, dan orang biasa ini tidak harus cantik atau ganteng.
“Kali ini saya akan membuat orang jelek jadi keren dan akan terlihat wah, dan dari make over ini akan mereka akan menjadi seorang bintang. Saya tidak lagi cari yang sempurna yang terpenting walau jelek tapi multi talenta.” kata Benny seperti dikutip situs kapanlagi.com
Sungguh revolusioner ucapan Benny ini. Untuk pertama kalinya di dunia televisi kita yang terkenal kejam (baca: jelek sedikit langsung dibuang), ada yang mau mencermati bakat sebagai aset utama menjadi bintang. Benny memberi sedikit harapan bagi mereka yang bermimpi ingin jadi artis, merasa berbakat, tapi sadar tampang pas-pasan.
Tapi benarkah begitu? Saya kira niat tinggallah niat. Dari minggu ke minggu, peserta audisi dijejali dengan berbagai kritik yang semuanya berujung pada betapa banyak yang harus di-upgrade dari penampilan mereka. Bukankah ini justru makin mengukuhkan pemujaan dunia hiburan kita terhadap fisik belaka?
Kita ambil contoh sebuah episode. Ada seorang peserta audisi yang kebetulan memiliki warna suara yang nge-rock, maka ia pun tampil sebagaimana rocker. Rambut setengah gondrong, aksesori rantai dan paku metal, dan baju didominasi warna hitam. Aura yang dipancarkannya pun misterius dan ‘gelap’.
Nah, rupanya penampilan ini kurang disukai Benny. Ia dan jajaran juri, yang saat itu termasuk Anjasmara, meminta penata gaya merombak total si peserta. Maka jadilah ia mengenakan baju yang warnanya cerah. Rambutnya dipotong rapi ala selebriti remaja zaman sekarang. Yang tersisa dari gaya lamanya hanyalah dompet rantai yang dikaitkan ke ujung ikat pinggang.
“Bagaimana perasaan kamu sekarang?” tanya Benny. Ia dan Anjasmara tersenyum puas melihat hasil permak mereka, sementara si peserta bergerak-gerak gelisah dalam kostum barunya. Kentara sekali ia tidak merasa nyaman, tapi apa lagi yang bisa dikatakannya selain ucapan terimakasih?
Seolah belum puas, Benny mengeluarkan pertanyaan yang lebih menjurus. “Lebih suka gaya kamu yang kemarin atau yang sekarang?” Si peserta meringis. Bisa kita bayangkan dilema dalam hatinya. Tidak mungkin berkata bahwa ia lebih suka gayanya yang lama sementara Benny dan deretan juri duduk manis menanti pujian dari pemirsa atas kehebatan selera mereka.
Lucunya, masalah permak-memermak penampilan ini tidak dilakukan di belakang panggung saja. Dalam salah satu episode ditunjukkan bagaimana Benny yang gemas melihat tatanan rambut salah seorang peserta, memanggil penata rambut ke atas panggung untuk langsung menggunting rambutnya. Ya, saat itu juga!
“Ya, coba pinggirnya ditipisin sedikit,” Benny memberi instruksi dari kursi juri, sementara si penata rambut bekerja. Si peserta berdiam diri, sekali-kali tersenyum tanpa sebab. Kamera meng-close up rambut si peserta yang jatuh satu per satu ke lantai panggung yang mengilat.
Sejurus kemudian si penata rambut selesai. Benny bertepuk tangan, lalu melancarkan beberapa komentar positif yang seolah-olah memuji si peserta dan penata rambut, padahal toh sebenarnya dia memuji seleranya sendiri. Nah, karena Benny bertepuk tangan, penonton di studio juga bertepuk tangan, dan mungkin kita di rumah juga ikut-ikutan.
Yang kita lihat di sini adalah semacam standardisasi mengenai apa yang layak dan tidak layak ditampilkan di teve. Lucu juga, sebab bukankah ‘artis’ seharusnya identik dengan kebebasan berekspresi? Tapi mungkin karena ini judulnya ‘mendadak’ maka para calon ‘artis’ harus mau tunduk pada pasar.
Ya, mereka memang tak ubahnya barang mentah yang sedang diubah jadi komoditas dagang. Benny dan rekan-rekannya sama sekali tidak berniat membikin wacana tandingan terhadap pemujaan tampang. Mereka justru makin menegaskan bahwa penampilan fisik masih tetap yang utama, bahkan ada semacam aturan bakunya. Betapa dangkalnya dunia hiburan kita!

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 12 April 2009)

No comments:

Post a Comment