Pages

Kibul-kibul Sang Pakar

Mana yang lebih sering kita perhatikan: isi sebuah pembicaraan, atau pembicaranya?
Ketika seorang profesor ahli sejarah berkata bahwa pada tahun sekian terjadi peristiwa demikian, pendengar pasti percaya. Bayangkan kalau hal yang sama dikatakan oleh seorang anak punk yang dekil, jarang mandi, dan rambutnya berdiri kaku dengan bantuan lem. Siapa yang hendak percaya?
Kata kuncinya terletak pada subjek yang menyampaikan, atau dalam bahasa ilmu komunikasi, sender. Truman Capote dalam bukunya In Cold Blood pernah menuai kontroversi karena sebagian (untuk tidak mengatakan banyak) hal yang ditulisnya dalam buku tersebut adalah kebohongan. Biografi duo pembunuh Perry Smith dan Richard Hickock yang ditulis Capote tersebut memuat “fakta” yang sebenarnya bukanlah “fakta”. Alih-alih tidak laku, buku tersebut justru laris diburu publik!
Apa yang terjadi? Identitas Capote sebagai penulis memberikan semacam legitimasi padanya sebagai Si Penyampai Kebenaran. Ketika seorang penulis berkata bahwa yang dikarangnya adalah sebuah biografi, orang akan menelan detail-detail yang ada sebagai fakta yang sungguh-sungguh terjadi, meski sebenarnya itu hanya kibul belaka.
Tidak hanya dalam dunia kepenulisan, dimensi lain dalam hidup kita pun banyak diwarnai dengan kepercayaan buta pada mereka yang dianggap pakar. Seorang agamawan punya hak untuk menentukan halal haram, seorang pakar ekonomi punya kekuasaan untuk menentukan jenis usaha apa yang kira-kira memiliki nilai ekonomis dan mana yang tidak, seorang ahli telekomunikasi macam Roy Suryo punya hak untuk berkata inilah video asli atau palsu, sekaligus menentukan perlu atau tidaknya ada UU teknologi informasi.
Legitimasi ahli tersebut mereka peroleh dari usaha memasarkan diri sendiri, biasanya lewat media massa. Agamawan, pakar ekonomi, dan pakar telekomunikasi yang sering muncul di televisi pasti lebih dipercaya dibandingkan mereka yang tidak, meski mungkin sebenarnya sama-sama ahli (atau malah lebih tidak ahli). Ini jelas berbahaya, karena begitu media sudah bicara, pasti kapitalisme terlibat di dalamnya. Artinya, sebutan ahli atau pakar sekarang adalah tidak lebih dari hasil karya proses penumpukan modal.
Sementara bagi kita para audiens, apa yang berbahaya dari pola pikir semacam ini? Kebiasaan menerima semua yang dituliskan atau diucapkan oleh para “ahli” jelas mematikan gairah bertanya dalam diri kita, sedangkan gairah tersebut justru lebih penting dari message (entah fakta atau fiksi) apapun yang dijejalkan oleh para sender.
Susahnya, kita hidup dalam dunia dimana orang berebut untuk memperoleh label “pakar”. Banyaknya buku-buku how to yang (berlagak) mengajari orang bagaimana cara melakukan banyak hal, dari mulai menjalani hidup, menanam bunga, beternak ayam, menulis cerpen, sampai menghindari dosa, adalah beberapa contohnya. Para penulis buku how to menulis langkah-langkah praktis dalam mencapai sesuatu, yang kita bahkan tidak tahu apakah itu kibul atau tidak. Toh, mereka sama-sama memberikan label “inilah kebenaran” bagi karya-karya mereka.
Ini merupakan indikasi masyarakat post-reformasi yang kebangetan. Semua orang mau bicara, tak ada yang mau mendengar, dan mereka yang bicara ini begitu yakin bahwa yang dibicarakannya adalah benar, dengan tidak memberi ruang bagi mereka yang hendak mempertanyakan kebenaran tersebut. Semua orang ingin disebut pakar agar didengar kata-katanya, dan dipercaya.
Kata Seno Gumira Ajidarma, a kibul is a kibul and still a kibul. Tidak ragu bertanya barangkali bisa menjadi solusi. Tidak mudah percaya pada teks, adalah solusi lainnya. Bahkan terhadap teks yang sedang kamu baca ini? Bisa jadi!

(dimuat di majalah Mosh! edisi #15, November 2008, Television Issue)

No comments:

Post a Comment