Pages

ups and downs

orang bilang, dalam sebuah hubungan selalu ada masa-masa ups & downs.

kita gak mungkin bisa selalu dekat, hangat, akrab dan erat dengan pacar atau sahabat. ada kalanya kita (atau mereka), menjauh. asyik sendiri. mendadak merasa lebih nyaman dengan orang lain. seperti hidup di dunia yang berbeda. seperti bicara dalam bahasa yang tak lagi sama. seperti berada di dua planet yang jauh jaraknya. dua orang yang tadinya sedekat upil sama idung (perumpamaan yang jijay, i know, hehe) bisa lho tau-tau berubah menjadi sepasang strangers yang merasa canggung berada dalam satu ruangan. nggak tahu mau ngomong apa (padahal sebelumnya, yang namanya ngobrol tuh bisa sampai berjam-jam). kadang-kadang jadinya tersenyum terpaksa, tertawa terpaksa. aneh, ribet, dan menyakitkan.

tapi itu memang terjadi. saya percaya banget bahwa dalam hubungan tidak ada hal yang konstan. persoalannya adalah, apa yang akan kita lakukan di masa-masa 'sulit' seperti itu? ada yang memilih untuk membicarakan perasaannya (ya istilahnya jujur-jujuran gitu lah), ada yang memilih untuk marah dan menutup diri, ada yang memilih untuk 'take it easy' dan berharap bahwa hubungannya akan membaik suatu hari nanti, ada yang menjadi oportunis dan berpikir bahwa kalau hubungan yang ini rusak, ya tinggal cari hubungan yang lain, emangnya temen/pacar dia doang? gitu aja kok repot

kamu yang mana?

kalo saya.. hmm.. mo curhat aja ah. gak pernah nyangka sih kalo akhir tahun akan diwarnai dengan hubungan2 yang memasuki masa downs-nya. seperti umumnya manusia, saya gak mau hal-hal yang indah berakhir. persahabatan. percintaan. siapa yang gak suka punya sahabat? siapa yang gak suka punya cinta? boong banget kalo ada yang bilang gitu. cinta dari orang lain adalah basic need manusia. nietzsche aja jadi gila, kesepian, dan akhirnya mati karena gak punya temen ngomong (ditambah lagi dia sakit sifilis akut sih, hihihi) -- but i guess this is something we all need to face. zaman masih muda, kalo ada kejadian kayak gini saya pasti selalu memilih untuk membicarakannya. saya orangnya gak suka nyimpen perasaan. selain itu, dulu saya yakin kalo satu-satunya jalan menyelesaikan masalah adalah dengan membicarakannya.

tapi sekarang, setelah umur saya nambah, setelah lebih banyak pengalaman, setelah lebih banyak pelajaran, saya jadi tahu bahwa tidak semua masalah perlu dibicarakan. ada kalanya kita hanya harus menerima dan menjalaninya. apalagi untuk hal-hal yang niscaya. membicarakannya hanya akan membuat masalah itu menjadi terkesan sangat berat, padahal mau dibicarakan sampai kaki jadi kepala kepala jadi kaki pun gak bakal ada solusinya.. *sigh -- dalam hal ini saya ingin berdamai dengan hidup yang kadang pahit. hubungan pertemanan/percintaan yang paling indah sekalipun memang akan menemui akhirnya. seperti senja yang mempesona, tapi pasti akan tenggelam di akhir hari, berganti malam.

saya hanya berharap bahwa, seperti senja, semua keindahan itu akan muncul lagi esok harinya :)

semoga.

2 comments:

  1. salam kenal? bukannya kita sudah sering bertemu ya pak?

    aku andin pak. si gadis pecinta seno gumira ajidarma.. mantan wartawati mosh yang sekarang sedang berjuang menyelesaikan skripsi terorismenya... hehehe

    ReplyDelete