Pages

Surat

Cerpen Andina Dian Dwi Fatma

Kekasihku Lukman,

Pada saat kau membaca catatan ini tentu langit di atasmu sedang berwarna biru cerah. Surya menyinarimu serupa piring besar kuning jingga keemasan. Gerumbulan awan memayungimu, sang manusia yang sedang berbahagia di atas buminya sendiri, sehingga kau tak merasa terik karena panasnya sang matari. Rerumputan di bawah kakimu sama bergoyang, sibuk sapa-menyapa dengan angin yang membelai-belainya dengan penuh sayang.

Kemudian ketika kau mendongak ke atas, nampak layang-layang saling berkejaran. Kubilang saling, karena layang-layang itu pun ada dua jumlahnya. Yang satu gambar katak, yang sebuah lagi gambar ikan. Bukankah kau selalu suka pada layang-layang? Dulu bahkan aku pernah memberimu sebuah lagu yang dengan judul yang sama. Aku ingat kau tergelak-gelak waktu kusuruh mendengarkan. Mukamu berkerut, dahimu mengernyit, ujung bibirmu kau tarik membentuk senyuman, dan akhirnya tertawalah kau, tertawa lepas-lepas. Meski tak lagi kuingat apa yang lucu dari lagu itu, ada kukenang bahwa saat itu ikut tertawa pula aku jadinya.

Bagaimana dengan bunga? O, makhluk Tuhan yang cantik itu pun pasti tak mau ketinggalan. Ketika surat ini kau buka dan kau baca, ada kurasakan bunga-bunga pun sedang bermekaran dengan cantiknya. Mirip dengan lagu kanak-kanak itu; ada yang putih dan ada yang merah.. Yang mana yang lebih kau suka, hai Kekasih, bunga dengan kelopak putih atau merah? Aku lupa. Seingatku aku pernah memberimu bunga warna putih, tapi mungkin kau lebih suka yang merah.

Toh itu tak jadi soal. Pokoknya, pada hari ini, berbahagialah sang manusia. Berbahagialah ia sebahagia-bahagia manusia yang pernah hidup dan bernafas dari bumi sang Adam. Terberkatilah ia.

Dan sang manusia itu kau rupanya, Kekasih.

Catatan ini kutulis di atas sebuah kereta api yang akan membawaku entah ke mana menuju ke entah apa, dalam sebuah perjalanan yang entah akan makan waktu berapa lama. Bagaimana aku akan tahu sedang aku tidak membawa jam tangan? Malahan, aku tidak membawa apa-apa, selembar baju pun tidak, kecuali secuil kenangan tentang kita di otakku. Kusimpan rapi di dalam sel warna abu-abu, kuletakkan di sebuah sudut yang paling sepi dan bisu. Tak akan ada apapun yang bisa mengambilnya dari situ.

Kekasihku,

Apa yang sesungguhnya ingin kutuliskan untukmu? Tak jelas memang. Aku tak punya lagi rayuan dan kata-kata manis. Sumur sudah mengering, layar sudah diturunkan, panggung sebentar lagi dirubuhkan. Aku tak lagi bisa merasai apa-apa tentang kau, tentang kita, tentang bumi yang kita pijak sekarang ini. Mungkin hatiku sudah lama patah karena kau. Mungkin juga sebenarnya tak patah, tapi kupatah-patahkan sendiri karena ego mudaku yang merajalela. Karena perasaan kecewa tak dipilih.

Kadang aku merasa begitu tolol pernah menginginkanmu begitu rupa, sedang sesungguhnya kita tak begitu saling kenal. Aku hanya berenang-renang dalam lautan khayalanku tentangmu, seperti ikan yang tak puas-puasnya meminum air laut, yang malah akan membuatnya makin haus karena rasa asin.

Kapan kita pernah benar-benar berbicara satu sama lain? Di mana?

Aku tak bisa ingat, Lukman. Aku bahkan tak ingat di mana kita pertama kali bertemu dan saling kenal. Di ruang kelas? Di lapak toko buku bekas? Di kedai yang menjual kopi panas? Aku tak ingat, tak bisa ingat. Yang samar-samar dapat kukenangkan hanyalah suaramu yang mengalir masuk ke gendang telingaku, menetap di hati, dan tersimpan rapi lagi-lagi di sel abu-abu. Aku selalu ingat tawamu yang begitu khas, seolah-olah tak akan ada lagi lelaki yang sanggup tertawa seperti kau di dunia ini. Aku tergila-gila pada tawa itu, seperti aku tergila-gila pada pemikiranmu yang bagiku mencerahkan.

Kepada kau aku mengadu dari dunia yang kian asing. Kau memelukku tepat ketika seluruh dunia menjauh. Lama sudah kuperingatkan diriku: janganlah terlalu mencintai lelaki ini, kalau ia pergi akan hilang kau nanti! Tapi kemudian kudapati bahwa manusia ternyata memang aneh, Kekasih. Walaupun sudah kupikirkan jauh-jauh hari perkara hilang-kehilanganmu, ketika itu akhirnya menjelma kenyataan, rubuh pula aku.

Rubuh, Kekasih, rubuh! Segala zikir dan doa tak mampu membangunkanku dari tidur tak lelap diiringi isak tangis yang tak kunjung mau berhenti. Kedua bola mataku rupa-rupanya berubah menjadi sumur zam zam yang airnya terus dan terus mengalir. Aku berzikir sampai bibirku tebal, aku berdoa sampai rintihanku makin tak terdengar dan akhirnya kembali menjadi tangis. Tapi air mata tetap tak berhenti mengalir.

Masih kuingat ketika kau hendak pergi, kau sempat berkata bahwa ini semua adalah salah sang waktu. Ia menempatkan aku dan kamu dalam keadaan serba tak tepat. Kau bilang aku terlalu muda, aku datang terlambat. Apakah itu berarti kau akan memilihku jika aku lebih tua, jika aku datang pada saat yang tepat? Tapi kapankah saat yang tepat itu, Kekasih? Adakah saat yang tepat itu?

Aku tidak tahu. Kau mungkin juga tidak tahu. Mungkin saat itu kau hanya menceploskan saja kalimat-kalimat itu sebagai penghiburan sebab tak elok rasanya jika kau tinggalkan aku tanpa kata-kata manis. Maka kau pun menyalahkan keadaan. Aku tidak bilang kau pengecut karena aku tahu kau bermaksud mengurangi luka hatiku. Bagaimanapun kita pernah saling menyayangi.

Lukman kekasihku,

Tak ada kata-kata yang belum kuucapkan padamu. Segala tentang perasaanku kau sudah tahu. Pernah kukatakan bahwa aku bersungguh mencintaimu. Sebenarnya bukan aku yang berkata ketika itu, Kekasih, tapi hatiku. Hatiku yang berteriak bahwa ia sungguh sangat mengharapkanmu. Bukan semalam dua malam, tapi seterusnya dan selamanya. Itu hatiku yang bicara, meski kau hanya tertawa mendengarnya. Kau memelukku lalu berkata bahwa aku masih terlalu muda. Menurutmu aku belum mengerti dunia, seperti aku juga tak benar-benar mengerti apa yang kukatakan.

Muda! Muda! Muda! Terlalu muda!

Ada apa dengan aku dan kemudaan, Kekasih? Salahkah menjadi muda? Bukan mauku berumur hampir separuh umurmu. Apakah karena muda lantas aku tak pantas mencintaimu? Apakah karena belum mengenal dunia, maka aku juga tak boleh mengenalmu? O, Kekasih, betapa kini aku paham. Rupanya tak ada lagi kesia-siaan paling besar selain mencintai orang yang tak mencintaimu. Dan hidup paling sepi adalah sepi karena ditinggalkan.

Kekasihku, kenanganku, cintaku,

Saat ini rintik-rintik hujan mulai menampar-nampar jendela kereta yang kunaiki. Titik-titik hujan ini kecil saja, Kekasih, kecil bagai jarum-jarum yang telaten menikami bumi sampai akhirnya sang bumi berseru-seru tak tahan lalu menyerah kalah. Baru pada saat itu sang hujan akan berhenti. Di bibirnya tersungging senyum puas, menatap bumi yang terengah kesakitan.

Apakah seperti itu juga perasaanmu ketika melihatku terjatuh? Apakah pada saat kau membaca surat ini kau akan tersenyum iba karena di matamu aku begitu menyedihkan? Ataukah kau akan membacanya dengan rasa bingung karena setelah sekian lama ternyata aku masih tetap belum bisa melupakan kita?

Bagaimana aku bisa melupakan, hai Kekasih, jika kepadamulah untuk pertama kalinya aku benar-benar berharap? Kau sendiri yang selalu berkata bahwa aku terlalu sinis untuk anak seusiaku. Kau yang menjulukiku Si Tak Mudah Percaya. Kau yang sibuk berceloteh bahwa selama ini lelaki datang dan pergi dalam hidupku karena aku tak pernah siap dengan hubungan yang berlangsung lama.

Lantas mengapa begitu aku merasa siap untuk menempatkanmu sebagai orang terpenting dalam hidupku, yang akan kucintai dan kuhormati sampai tua, kau malah pergi meninggalkan ini semua? Saat itu aku sudah siap, Kekasih, benar-benar siap. Aku sudah akan mempersembahkan diriku untukmu, Lukman, tetapi kau malah melangkah pergi. Tidakkah aku berhak untuk membencimu karena itu?

Mengapa kau tak pernah memikirkan aku? Memikirkan kita?

Kau tahu, bagian tersulit bagiku adalah ketika kau, dengan wajahmu yang selalu nampak berpikir itu, menatapku tepat di mata seraya berkata bahwa kau tak menyangka akan sedalam ini perasaanku padamu. Menyedihkan! Kau kah itu yang bicara, orang yang kukira paling mengenalku selama ini? Kau tahu segalanya tentangku, Kekasih, sebab aku membuka diri padamu seperti sebuah buku. Dan kau membacaku dengan begitu tenang dan pasti. Tetapi mengapa justru untuk soal yang satu itu, yang paling penting dan berharga untukku, kau malah angkat bahu tanda tak tahu?

Harusnya, ya, harusnya hal itu cukup bagiku untuk membencimu. Tapi aku tetap tak bisa. Rupanya kau telah tempatkan dirimu di suatu sudut hatiku yang tak terjamah oleh segala rasa benci dan kecewa. Bagaimana caranya aku tak tahu. Kau pun mungkin juga tak tahu. Tapi kau sudah melakukannya, Kekasih, dengan sangat baik. Kini aku sadar bahwa jangan-jangan meski kau tusuk aku dengan pisau sampai robek jantungku, pun aku tak akan berhenti mencintaimu.

O, kini hujan semakin deras. Suhu di dalam kereta mendingin cepat, sehingga aku terpaksa harus berhenti menulis sebentar untuk mengencangkan tali baju hangatku. Sempat pula kuedarkan pandangan ke sekeliling gerbong yang kutumpangi. Sepi. Bersamaku hanya ada beberapa orang penumpang saja. Semuanya berwajah lesu. Semuanya tidak membawa jam tangan. Kurasa perasaan kami serupa belaka, wajah-wajah mendung itu. Ingin aku iseng mencoba mengajak mereka bicara, tapi segan pula. Beberapa pasang mata yang redup menatap kosong ke luar jendela, ke arah gerimis yang kin sudah menderas menjadi hujan, seakan memberiku peringatan padaku tak ingin diganggu.

Maka aku pun berkonsentrasi pada catatanku. Harus, karena sebentar lagi surat ini akan mendekati akhirnya. Aku hampir selesai dengan apa yang mau kukatakan padamu, Lukman. Mungkin kau akan bilang bahwa surat ini semacam surat perpisahan. Tak mengapalah, sebab aku pun tak tahu akan kunamai apa catatan ini.

Kekasih, kini percayakah kau, takdir itu ada? Aku selalu terperangkap di tengah-tengah hasrat untuk menolak takdir, karena ingin menjadi hebat, karena ingin menjadi pusat dari kehidupanku sendiri. Tetapi di sisi lain aku ingin percaya bahwa ada hal-hal yang sudah ditulis. Ada hal-hal yang sudah digariskan, dan aku hanya tinggal berjalan kucluk kucluk mengikutinya, terbawa arus, terseret dengan bahagia.

Mungkin takdir berkata kita memang tak sepadan, Man.

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros¹

Masih ingat kau puisi itu, Kekasih? Entah mengapa tadi terngiang aku padanya. Kupikir-pikir cocok pula dengan keadaan kita saat ini, jadi kutuliskan saja. Ah, Lukman, betapa aku ingin menjadi pasanganmu. Betapa aku ingin perempuan lain sajalah yang menuliskan puisi itu untukmu, sementara aku dan kau akan membacanya berdua diiringi senyum, tanda bahwa meski ada ia menginginimu begitu rupa, tetap aku yang keluar sebagai pemenangnya.

Saat ini aku tahu, akulah sang perempuan lain yang menginginimu begitu rupa, sementara ada seorang perempuan yang beruntung duduk di sebelahmu, menemanimu membaca penggal demi penggal surat ini. Bisa kurasakan kalian berdua tersenyum, campuran antara iba dan bahagia. Mungkin sedikit perasaan menang. Tak apa, aku tak salahkan kalian. Memang dia itu perempuan yang beruntung, Man, Lukman, Kekasihku, Kenanganku, Cintaku – sebab ia menjalani kehidupan yang hanya bisa kuangankan dalam impian.

Berbahagialah kau, Lukman.. berbahagialah. Jangan tidak. Dan ingat-ingatlah aku sebagai ia yang pernah begitu mengharapkanmu.

Gadis kecilmu,

Alina

***

Surat dari siapa, Ma?”

Seorang anak kecil bertanya pada ibunya dengan suara cadel. Ia belum lagi bersekolah. Dengan kepolosan mata yang luar biasa ditatapnya mata ibunya, menunggu jawaban.

Ibunya, perempuan muda yang cantik itu, menghela napas. Di tangannya ada beberapa lembar kertas, baru dikeluarkan dari sebuah amplop berstempel asing. Dipandanginya wajah sang anak yang tangannya sedang menggenggam boneka singa. Dari wajah sang anak, pandangannya beralih ke foto mereka sekeluarga di ruang tengah: ia, anaknya, dan almarhum suaminya. Lima tahun yang lalu. Alangkah sepinya waktu.

“Dari teman Papa.”

Kaligarang, awal Januari 2008

masih tentang lelaki tuaku

¹ dari puisi Chairil Anwar, Tak Sepadan (1943)

(dimuat di Tabloid Cempaka terbit 13 Maret 2008)

2 comments:

  1. aku baca cerpen true story ini sambil dengerin kompilasi michael learn to rock dan gelas-gelas kaca nia daniati. sesekali kubaca broken wings-nya kahlil gibran.
    dari radio angkot, terdengar pula alunan tembang cinta yang membunuh.

    salam

    ReplyDelete
  2. semuanya sudah lewat. membacanya jadi geli sendiri. tapi, terima kasih sudah diingatkan. pria yang ini selamanya akan saya kenang.

    ReplyDelete