Pages

Perlawanan Penggila Bola


Bagi para fanatik, sebuah tim sepakbola lebih layak dibela sampai mati ketimbang dirinya sendiri.

Bukan hanya waktu yang rela mereka berikan. Menit demi menit yang terlewati dengan penuh semangat di stadion sepakbola hanyalah sebagian kecil di antaranya. Uang, tenaga, pikiran, dan emosi pun mereka korbankan dengan sepenuh hati. Itulah pilihan hidup yang tidak perlu dipertanyakan lagi, demikian keyakinan mereka.

Terminologi kultural seringkali menyebut para “fundamentalis” ini dengan nama hooligan. Istilah tersebut diyakini berasal dari tanah Inggris, dimana pesona magis sepakbola mendapatkan tempatnya yang paling tinggi. Seperti sudah menjadi rahasia umum bahwa hampir seluruh tim sepakbola Liga Inggris memiliki hooligan-nya sendiri.

Ya, di Inggris memang sepakbola sudah seperti agama. Konon suasana hati warga kota di hari Senin pagi ditentukan oleh hasil pertandingan tim mereka di akhir pekan. Kemenangan akan menghadirkan suasana ceria yang bersemangat, sementara kekalahan membuat suasana kota lesu dan mati.

Dengan kondisi seperti ini, kemunculan klub-klub hooligan di setiap kota hanyalah efek samping yang sebenarnya sudah tertebak. Dan, seperti tim sepakbola jagoan mereka yang berkompetisi di klansemen liga, para klub hooligan ini juga “bersaing” di kehidupan nyata dengan darah, keringat, dan air mata.

Gambaran seperti inilah yang bisa kita saksikan melalui film Green Street Hooligans. Film layar lebar yang dibintangi Elijah Wood, si Frodo Baggins dalam trilogi Lord of The Rings, ini memotret bagaimana para fanatik sepakbola menjalani kecintaan mereka terhadap tim favoritnya hingga berdarah-darah.

Wood memainkan peran sebagai Matt Buckner, mahasiswa Amerika yang dikeluarkan dari Harvard karena kasus kepemilikan kokain. Dalam keadaan tertekan ia lalu memutuskan untuk tinggal bersama kakak perempuannya, Shannon (Claire Forlani) di Westham, Inggris.

Oleh iparnya, Steve Dunham, Matt dikenalkan pada sang adik, Pete. Steve pun meminta Pete untuk mengajak Matt menonton pertandingan West Ham United bersama klub hooligan –nya, Green Street Elite (GSE). Pete, yang awalnya ogah-ogahan mengajak seorang “yank” (istilah slang Inggris untuk menyebut orang Amerika) menonton pertandingan, pada akhirnya menemukan persahabatan di dalam diri Matt.

Ada beberapa hal yang bisa dicermati dalam film ini. Relasi setengah-hati yang awalnya terjalin antara Pete dan Matt menunjukkan sifat tertutup atau eksklusivisme klub hooligan, dalam hal ini GSE. Identitas kedaerahan menjadi begitu penting, mengakibatkan Matt tidak bisa “masuk” karena dinilai sebagai orang luar (outsider) yang kebetulan kecemplung dalam lingkaran pergaulan mereka.

Penolakan Pete dan kawan-kawan terhadap kehadiran Matt diwarnai dengan kebencian etnisitas. Bagi anggota GSE, tidak mungkin seorang Amerika seperti Matt bisa mengerti keindahan sepakbola sebagaimana yang mereka rasakan. Di sebuah negara dimana basket menjadi olahraga dominan seperti Amerika, bagaimana mungkin sepakbola bisa menjadi penting bagi mereka?

Hal ini diperparah oleh kecintaan yang sedikit patologis terhadap olahraga si kulit bundar. Bagi Pete dan kawan-kawan, apa yang terjadi pada tim jagoan mereka adalah hal yang maha penting. Mempertahankan harga diri tim mereka dengan demikian menjadi suatu tugas suci yang wajib dituntaskan.

Tapi mengapa sampai demikian? Disini Karl Marx nampaknya harus kita ikut sertakan dalam pembicaraan. Alkisan ketika filsuf Ludwig Feuerbach berkata bahwa tuhan hanyalah proyeksi buatan manusia, Marx maju selangkah dengan bertanya, mengapa pula manusia harus membikin proyeksi?

Marx kemudian sampai pada kesimpulan bahwa manusia melakukan proyeksi karena adanya keterasingan dalam dirinya. Ia merasakan adanya kekosongan, kebutuhan aktualisasi dirinya tidak terpenuhi. Mungkin ia tidak menyukai pekerjaannya, mungkin juga ia tidak sanggup menghadapi realita yang dialaminya dalam hidup.

Menggunakan pandangan Marx tentang keterasingan (alienation) itulah kita bisa memandang fenomena hooligan ini dengan lebih mendalam. Pete dan kawan-kawan GSE nya memang menunjukkan indikasi tersebut sepanjang film. Hidup yang keras dan masa depan yang belum pasti (ciri khas warna kehidupan pemuda) membuat para anggota GSE memproyeksikan kebutuhan-kebutuhan mereka pada West Ham United.

Prestasi yang diraih West Ham berarti adalah kemenangan mereka pula. Keberhasilan West Ham membuat mereka merasa berarti, membuat mereka merasa telah meraih sesuatu. Jelas, ada indikasi kebutuhan untuk membuktikan sesuatu dalam diri para pemuda GSE, yang bisa dipenuhi dengan mendukung habis-habisan tim mereka. Ini juga menjelaskan mengapa jika West Ham dihina atau kalah, mereka siap membela sampai titik darah penghabisan, bagai membela dirinya sendiri.

Ada hal menarik soal bela-membela ini. Dalam sebuah adegan, diceritakan bagaiman Tommy Hatcher, kepala klub hooligan tim Milwall (yang bermusuhan dengan GSE) harus kehilangan anak lelakinya demi membela kepentingan tim. Saking asyiknya berkelahi, ia lupa mengawasi sang anak. Akibatnya fatal, sang anak meninggal dunia.

Apa artinya? Pada titik ini, Tommy kembali pada natuur-nya sebagai manusia: memikirkan kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Milwall yang dicintainya ternyata harus membuatnya berkorban nyawa sang anak. Dendam yang kemudian dimilikinya terhadap GSE hanyalah proyeksi yang lain lagi karena ia tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

Bila pandangan Marx soal keterasingan ini benar, tampaknya solusi bagi kerusuhan suporter di Indonesia sedikit demi sedikit mulai bisa diraba. Ya, dengan kondisi ekonomi dan pendidikan yang lebih baik, para suporter bermodal nekat itu tidak perlu lagi memproyeksikan hidupnya yang menyedihkan pada tim sepakbola favoritnya. Kecintaan membabi-buta itu bisa ditiadakan, bila mereka punya sesuatu yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri, untuk dihargai dan diperhatikan sewajarnya.

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 30 Maret 2008)


2 comments:

  1. saya mencari artikel ini sudah lama,..pernah saya baca di suara merdeka minggu,..mau aku kliping tapi ilang duluan.

    bagus tulisannya,...aku mau pinjam sebentar ya utk di sadur...

    howi green day :)

    ReplyDelete
  2. silakan, asal cantumkan sumber dan copyrightnya ya :)

    ReplyDelete