Pages

Makna Anak


Angie (Amy Poehler) mendadak harus merasakan hamil dan menjadi calon ibu. Yang istimewa, bayi dalam kandungannya itu bukanlah janinnya sendiri.

Seorang ibu titipan, atau istilah dalam bahasa Inggrisnya, surrogate. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan identitas Angie. Dalam komedi bertajuk Baby Mama (Universal Pictures, 2008) dikisahkan Kate (Tina Fey) seorang wanita karir yang terbilang sukses, mendadak menyadari akan pentingnya memiliki anak.

Di usianya yang kepala tiga, usaha Kate untuk punya anak melalui cara-cara medis tidak memberi harapan. Keadaan ini nyaris membuatnya putus asa sampai Angie hadir. Gadis drop-out SMU seperti Angie jelas butuh uang, sementara Kate butuh rahim yang memadai untuk program inseminasi bayi tabung. Cocok.

Kate dan Angie awalnya tinggal terpisah. Namun, pertengkaran hebat dengan suaminya membawa Angie pindah ke rumah Kate. Dari sinilah kelucuan dimulai. Perbedaaan umur, gaya hidup, dan karakter membuat Angie dan Kate selalu berdebat tentang apapun. Meski demikian, pada akhirnya mereka selalu berbaikan karena tahu bahwa sealot apapun perdebatan yang mereka lakukan, itu semua demi rasa sayang mereka terhadap si calon bayi.

Ada pelajaran yang bisa kita gali dari film ini, yaitu filsafat tentang anak. Ia seringkali dianggap sebagai sesuatu yang diterima tanpa perlu dipertanyakan lagi (taken for granted). Sangat menggelitik bila kita berani mempertanyakan keberadaannya, mengguncang kemapanannya, dan mendekonstruksi maknanya.

Kehadiran anak di tengah suatu rumah tangga adalah hal yang niscaya, kalau tidak mau dikatakan wajib hukumnya. Bila ada pasangan yang sudah menikah dalam hitungan tahun tapi masih belum memiliki anak, tentu berbagai kecurigaan muncul. Jangan-jangan salah satu dari pasangan suami istri itu ada yang mandul!

Biasanya langkah-langkah tertentu kemudian diambil. Memelihara anak saudara sebagai ‘pancingan’ adalah solusi paling popular. Menduduki peringkat kedua adalah pengobatan medis maupun alternatif. Sementara solusi yang kerap menimbulkan kontroversi di kalangan keluarga adalah mengadopsi anak. Tidak dipungkiri, adopsi seringkali kurang disarankan karena sebagian besar keluarga di Indonesia menginginkan anak atau cucu yang sedarah dan sedaging dengan mereka.

Begitu berharganya seorang anak sampai-sampai kita nyaris tidak pernah bertanya: sebenarnya apa guna mempunyai anak? Untuk apa para orangtua merasa ingin mempunyai anak? Apakah anak bisa serta merta membawa ketentraman bagi orangtuanya? Apakah memiliki anak mendatangkan kelegaan luar biasa?

Sebagian kalangan relijius mungkin beralasan bahwa sudah dari sononya kodrat manusia adalah untuk melestarikan kehidupannya. Sudah garis Tuhan bahwa manusia memiliki hasrat untuk berketurunan. Dari sinilah muncul konsep perkawinan, agar manusia bisa menuntaskan hasrat (dan kewajibannya) untuk beranak-pinak secara halal.

Sebagian lagi beralasan bahwa anak membuat mereka memiliki tujuan hidup. Memiliki anak berarti memiliki penerus. Seorang kawan yang tengah membanggakan putra tunggalnya pernah berkata bahwa sekarang ia sudah bisa mati dengan tenang, karena tahu bahwa garis eksistensinya di dunia ini sudah ada yang meneruskan. Fantastis, bukan?

Meski dengan alasan yang berbeda, sejatinya kedua pandangan tersebut memiliki satu kesamaan, yakni meletakkan tanggung jawab di luar diri sendiri. Pandangan relijius meletakkan segala sesuatunya di ‘bahu’ Tuhan. Ketika sebuah pertanyaan dijawab dengan kalimat ‘sudah kodrat’, maka selesailah perdebatan. Bisa dibilang ini adalah jawaban dari mereka yang segan berdiskusi, karena jika sudah bicara Tuhan maka tak ada yang bisa bicara banyak.

Jawaban kedua berbau egois. Punya anak karena ingin memiliki tujuan hidup sama artinya dengan menganggap si anak sebagai sebuah alat untuk mencapai sesuatu. Martin Buber pernah mengemukakan dua relasi antar manusia, yakni relasi I-It dan relasi I-Thou. Yang pertama menggambarkan manusia yang tidak bisa memanusiakan orang lain, melainkan hanya menganggapnya sebagai piranti yang bisa membantunya mencapai suatu maksud. Sebaliknya, relasi I-Thou menunjukkan relasi ideal antar manusia dimana mereka saling menghargai kapasitas sebagai individu satu sama lain.

Yang terjadi pada kebanyakan orangtua adalah, sadar atau tidak sadar, mereka berusaha membentuk si anak seperti apa yang diinginkannya. Anak menjadi semacam lempung yang bisa dibentuk-bentuk seenak hati. Sebenarnya, hal ini wajar mengingat orangtua merasa memiliki hak penuh atas si anak. Ibunya melahirkan, sejak bayi dirawat, sekolah dibiayai, belum lagi kebutuhan lainnya. Bentuk tanggung jawab seperti ini menciptakan ilusi bahwa si anak adalah miliknya, dan karenanya adalah hak orangtua untuk membentuk anaknya.

Di sini aforisma Kahlil Gibran memperoleh maknanya: anakmu bukanlah milikmu. Ya, tanpa disadari orangtua sering membangun relasi I-It dengan anaknya. Bagi orangtua, sang anak bukan hanya sekadar buah hati. Anak juga alat untuk memperoleh prestise di tengah masyarakat, alat untuk mewujudkan cita-cita yang mungkin gagal dicapainya di masa lalu, bahkan alat untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.

Karena hal inilah, banyak terjadi kasus orangtua dan anak bertengkar. Orangtua memaksa anaknya jadi dokter, menjodohkan dengan anak relasi bisnisnya, menghukum si anak ketika ia tidak lulus kuliah, membuangnya ketika ia ternyata gay atau lesbian, atau tidak memberi restu ketika si anak pamit menikah beda agama, hanya sekian dari terlalu banyak contohnya.

Cinta pada anak adalah cinta yang membebaskan. Hal inilah yang tampaknya harus disadari setiap orangtua. Anak memiliki kapasitasnya sendiri sebagai individu. Ia memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri, lengkap dengan segala ambisi, ide, cita-cita, harapan, dan prinsip hidupnya. Tak ada satupun pihak yang boleh memaksakan ini pada setiap manusia, termasuk orangtuanya sendiri.

Sebagai penutup, menarik bila kita cermati cara Guru Oogwai menasehati muridnya, Master Sifu dalam film kartun Kungfu Panda. Ia memberi analogi tentang idealnya hubungan anak dan orangtua yang seringkali terlupakan karena rasa sayang seringkali berlanjut pada tindakan kontrol berlebihan.

“Jika kau menanam sebuah bibit, kau mungkin bisa mengatur kapan ia akan tumbuh, kapan buahnya bisa kau petik, dan dengan cara apa kau akan memetiknya. Tapi satu hal yang tak bisa kau atur adalah, ia akan tumbuh menjadi dirinya sendiri. Kau tak akan bisa mengubahnya menjadi pohon lain, sekeras apapun kau berusaha.”

(dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 13 Juli 2008 dengan judul "Apa Guna Punya Anak")

No comments:

Post a Comment