Pages

Hindari Membentuk Stereotip

Dikotomi peran golongan tua sebagai pelaksana pemerintahan, sementara kaum muda hanya sebagai oposan, memang sudah saatnya dikaji ulang.

Pola pikir strukturalistis macam itu tidak lagi sesuai dengan perkembangan roda kehidupan politik dan pemerintahan di Indonesia. Kita ingat dulu kaum muda pernah nekat menculik golongan tua ke Rengasdengklok untuk memaksa diikrarkannya proklamasi. Tentunya, tindakan culik menculik tidak relevan untuk saat ini, bahkan mungkin juga tidak bakal efektif, atau jangan-jangan malah memancing kerusuhan. Lantas apa yang bisa dilakukan kaum muda?

Sebuah ikrar yang diucapkan dalam peringatan 79 tahun Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2007 lalu, barangkali adalah jawabannya. Dalam peringatan yang diselenggarakan di Gedung Arsip Nasional ini, hadir tokoh-tokoh pemuda antara lain Agung Putri, Benny Susetyo, Anies Baswedan, dan Usman Hamid. Bersama mereka mengucapkan Ikrar Kaum Muda Indonesia, dengan jargon mantap: “Saatnya kaum muda memimpin!”.

Jelas bahwa pendeklarasian ikrar oleh kaum muda ini dipicu oleh kekecewaan mendalam melihat pemerintahan yang dijalankan golongan tua. Pemerintahan yang serba naif, tidak bervisi (kalaupun ada toh hanya di atas kertas), dan penuh kepentingan. Sukardi Rinakit malah dengan terang-terangan berkata bahwa golongan tua sudah gagal, maka itu sudah selayaknya tongkat kepemimpinan diestafetkan pada kaum muda.

Dalam salah satu pernyataannya mengenai sebab-sebab kegagalan Indonesia, Rizal Ramli, Ketua Komite Bangkit Indonesia, mencantumkan poin kritiknya terhadap pemerintah. Menurut Rizal, kepemimpinan yang ada sekarang tidak efektif, lemah visi dan karakter, serta mudah berubah karena di dalamnya bertarung banyak kepentingan.

Pertanyaannya, apakah kaum muda sudah pasti bisa menjalankan sebuah sistem baru, yang segar dan bersih dari kepentingan? Apakah dengan naiknya kaum muda sebagai pemimpin, segala budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merupakan biang kegagalan Indonesia, bisa dihapuskan? Apakah kepemimpinan oleh kaum muda serta merta menjadi solusi untuk menyelamatkan negara ini?

Idealnya, semangat kaum muda digabung dengan pengalaman serta kejelian golongan tua. Sayangnya, ini pun tak mudah. Yang terjadi seringkali golongan tua menganggap kaum muda sebagai anak kemarin sore yang banyak menuntut, sementara kaum muda menilai golongan tua sudah keenakan dengan segala kemapanan yang mereka punya, padahal kemapanan itu berdiri di atas penderitaan rakyat kecil.

Meski terkesan klise, dialog adalah jawabannya. Penulis percaya bahwa baik kaum muda maupun golongan tua tidak bisa digeneralisir begitu saja karena toh setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Tidak setiap orang dari kaum muda bercita-cita luhur terhadap bangsa ini, seperti juga tidak semua individu dari golongan tua memainkan peran sebagai the bad guy.

Proses komunikasi (baca:dialog) mensyaratkan adanya kesediaan untuk saling mendengarkan. Baik kaum muda maupun golongan tua harus menyediakan ‘telinga’ masing-masing agar bisa saling memahami. Namun, yang terpenting keduanya harus menjalankan proses dialog mereka dalam satu semangat yang sama: menyelamatkan bangsa ini dari krisis multi-dimensional yang sudah terlalu lama menerpanya.

Kemudaan bukan jaminan, sebagaimana usia tua juga tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pemimpin yang baik. Di sini kita harus bijak dalam menilai, jangan sampai terjebak dalam pola pikir yang menghalalkan stereotip dalam bentuk apapun. Selain itu, sikap marah-marah dan menihilkan sekecil apapun pencapaian pemerintah, harus mulai ditinggalkan karena justru akan menjadi kontra-produktif terhadap kebangkitan negara ini.

(dimuat di Kompas Jawa Tengah edisi 9 November 2007)

No comments:

Post a Comment