Pages

Franklin

Manusia terkenal karena sifatnya yang tak pernah puas. Diberi hujan, minta panas. Diberi panas, minta hujan. Karena itu, wajarlah kiranya bila semua orang senang tinggal di kota ini. Kota dimana udaranya tidak pernah benar-benar panas, dan tidak pernah benar-benar dingin. Jika kemarau tiba, tidak pernah benar-benar lama, sehingga tidak pernah benar-benar terjadi kekeringan. Demikian pula dengan banjir, tidak pernah benar-benar membikin susah warganya. Memang ada yang mati, tapi tidak benar-benar banyak. Juga jika pemerintah kota membikin peraturan baru yang kurang disetujui warganya dan mahasiswa lalu berdemo, demo yang terjadi tidak benar-benar rusuh. Jika ada yang cerai, mati, lahir, selingkuh, kawin, semuanya akan ditayangkan di koran dan infotainment kota, tapi tidak pernah benar-benar heboh. Singkatnya, karena sifatnya yang tidak berlebihan, semua warganya senang tinggal di kota ini (tapi yaa.. tidak benar-benar senang juga).

Hal ini aku ketahui dari cerita beberapa orang pinisepuh kota ini. Aku singgah di kota ini di masa mudaku, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju entah ke mana mencari entah apa entah untuk apa entah sampai kapan. Ya, aku seorang pengembara. Ketika melewati kota ini, aku segera merasa tertarik dan langsung menyewa kamar kos yang terbilang murah untuk kantong pengembara seperti aku. Setelah menetap di kota itu selama beberapa bulan, aku mengamati bahwa rupanya sifat serba tanggung kota ini telah merasuk ke dalam karakter tiap penduduknya. Semua jadi tidak punya sifat berlebihan. Koh Acong yang pedagang, misalnya, memang pelit. Tapi tidak benar-benar pelit sampai menghitung tiap logam yang masuk dan keluar tokonya. Lalu Bang Poltak yang berprofesi sebagai preman (preman juga profesi, benar tidak?) memang terkenal galak, tapi tidak benar-benar galak. Yaah.. galak biasa saja. Tapi toh tiap orang tetap nurut padanya, tetap memberi uang bila diminta.

Meski begitu, setiap kelompok, organisasi, lembaga, badan, atau apapun namanya, pasti punya ‘pengkhianat’-nya sendiri. Yaa.. kalau kau tak suka kata pengkhianat, boleh kita pakai kata-kata agen perubahan. Seperti Judas Iskariot yang berani melaporkan gurunya Yesus ketika murid-murid yang lain dengan patuh menyembunyikan sosok-Nya. Aku pribadi selalu berpendapat keberanian Judas untuk berkhianat memberikan kontribusi yang besar bagi sejarah pengampunan dosa umat manusia. Makanya aku sedikit kecewa ketika Judas tahu-tahu menyesal dan malah menggantung diri. Kalau aku jadi Judas, aku akan berjalan dengan gagah sembari membagikan tanda tangan dan foto seukuran postcard.

Nah, kota yang serba tanggung ini juga punya Judas-nya sendiri. Namanya Franklin, tidak pakai Roosevelt. Franklin seorang bujang lapuk yang belum menikah hingga usia 42 tahun. Bukan karena Franklin enggan menikah, sebenarnya. Bukan juga karena Franklin gay karena meski seandainya ia gay pun maka ia tetap boleh menikah. Sebab di kota ini memang ada kelompok yang menentang kaum gay tapi tidak pernah benar-benar menentang. Ada aturan juga yang melarang pernikahan gay, tapi aturan itu tidak pernah benar-benar ditaati.

Tapi Franklin bukan gay. Ia suka perempuan, seperti katanya padaku suatu sore di warung kopi. Hanya saja, seleranya agak spesifik. Ia hanya suka perempuan yang namanya Kartika. Itupun tidak boleh sembarang Kartika. Hanya Kartika yang tinggal di Jalan Merpati nomer enam. Singkatnya, Franklin jatuh cinta pada ‘the one and only’ Kartika Sari yang adalah istri orang dengan satu anak yang lucu.

“Aku jatuh cinta pada Tika sejak enam tahun yang lalu, Bung.. eh, tadi siapa namamu?” tanya Franklin ketika itu.

“Gregorius.” jawabku sambil menyeruput kopi.

“Jojorius?”

“Gre-go-ri-us.” aku mengeja.

“Ah, susah ‘kali namamu! Kupanggil Joni saja, ya?”

Aku tertawa seraya mengangguk setuju.

“Nah, Joni, seperti kubilang tadi, aku mencintai Tika sejak enam tahun yang lalu. Saat itu, dia masih muda, bersinar, cantik..” sampai di sini ia jadi melamun. Aku mengamati wajahnya yang cukup tampan namun bagai disaput mendung karena terlalu lama terperangkap dalam kesedihan.

“Lalu, bagaimana ceritanya Kartika bisa menikah dengan orang lain?” tanyaku.

Franklin memandangku sedih, lalu mulai bercerita lagi. Karena kebodohannya yang malu menyatakan perasaannya, Franklin keduluan seorang pemuda seumuran Kartika yang melamarnya di malam takbiran. Franklin merasa kecolongan. Mana ia tahu kalau laki-laki itu mau melamar Kartika di malam takbiran? Franklin yang tidak pernah merayakan hari raya apapun tentu saja masih tidur dengan nyenyak ketika Kartika berkata ‘I will‘ pada lelaki itu. Karena itu, bagi Franklin kehilangan Kartika adalah perlakuan yang paling tidak adil yang pernah diterimanya. Kata Ustad Jupri, Franklin didzalimi.

Sambil mendengarkannya bercerita, aku diam-diam membuat penilaian sendiri. Tidak salah jika kukatakan tadi ia Judas kota ini. Franklin benar-benar menyimpang dari aturan tidak resmi kota ini. Memang tidak apa-apa jatuh cinta, tapi yaa.. janganlah benar-benar jatuh. Bolehlah patah hati, tapi jangan benar-benar hancur. Sedih, gembira, nafsu, semuanya boleh.. tapi jangan benar-benar dirasakan. Jangan seperti Franklin. Rasa cintanya pada Kartika membuatnya gila dan rela membujang seumur hidup. Setiap hari digunakan Franklin untuk membayangkan wajah elok Kartika dan angan-angan hidup bersama dengannya. Franklin sudah tidak bisa lagi jatuh cinta pada manusia lain. Di mata Franklin hanya ada Kartika, meski di mata Kartika hanya ada suami dan seorang anaknya. Menyedihkan.

“Kau tahu, Joni, setiap hari aku mengirimi Kartika bunga dan kartu berhias renda putih.” Kata Franklin setelah terdiam beberapa saat.

“Untuk apa?” tanyaku heran.

“Sekadar mengatakan padanya kalau aku masih mencintainya.”

“Iya, tapi untuk apa?”

Franklin terdiam. “Joni, pernahkah kau merasa begitu kesepian dan begitu terasing dari dunia ini?”

Ganti aku yang terdiam. “Bagaimana seorang pengembara seperti aku dapat menjawab pertanyaan seperti itu, Franklin? Keterasingan adalah hidupku. Karena itu aku mengembara.”

“Aku selalu merasakan keterasingan, Joni. Kota ini tidak mengerti aku. Setiap kenalanku mencibir perasaanku pada Kartika. Kata mereka, aku ini terlalu perasa. Tapi bukankah tugas manusia memang merasa? Apa yang tersisa dari kita kalau tidak boleh lagi merasa?”

“Mungkin.. mereka merasa kau terlalu berlebihan, Franklin.” kataku hati-hati.

“Berlebihan, katamu?” ia menatapku sedih. “Cinta selalu berlebihan, Joni. Mencintalah sampai terasa sakit. Itu baru namanya cinta.”

Aku menatapnya.

“Tidak ada lagi yang tersisa di kota ini untukku, Joni.”

“Lantas, apa yang mau kau lakukan, Franklin? Mengembara seperti aku?” tanyaku.

Ia menggeleng-geleng. “Entahlah, Joni, entahlah..”

Aku menyeruput kopiku, sambil berpikir keras.

***

Sore itu, Franklin mengajakku berkeliling kota. Ia tahu ini adalah hari terakhirku di kota ini. Seorang pengembara tidak boleh menetap terlalu lama di sebuah tempat. Karena itu ia membawaku berkeliling, sampai kami tiba di jalan utama yang sekaligus adalah kawasan segitiga emas kota ini. Franklin memarkir motornya, lalu menunjuk salah satu gedung yang menjulang cukup tinggi.

“Kau lihat gedung itu, Joni?”

Aku mengangguk. “Apa istimewanya?”

Franklin lalu mulai bercerita. Gedung itu namanya Gedung Raja Kartu, gedung tertinggi di kota ini. Terdiri dari 45 lantai, gedung ini didirikan oleh Soetarmadja, seorang pengusaha kartu dengan taruhan alias judi. Sebenarnya Soetarmadja ini punya gelar haji, tapi urung dipakainya karena malu pada tetangga. Masak bandar judi pakai gelar haji? Atas saran anak-anaknya yang jumlahnya sebelas orang (ini jumlah yang legal, sementara yang ilegal belum dihitung, susah juga karena Soetarmadja ternyata suka juga main perempuan, tentu saja perempuan yang cukup bodoh untuk mau dijadikan mainan) Soetarmadja mulai melakukan kegiatan sosial agar lama kelamaan masyarakat mau menerima kehadirannya sebagai orang baik dan layak memakai gelar haji. Mengapa memakai gelar haji begitu penting bagi Soetarmadja? Ini karena gelar haji diyakini akan membuat jalannya jadi lebih mudah dalam menjadi calon walikota dalam pemilihan tahun depan.

“Politik bau kentut.” gumamku. Franklin tertawa.

“Sore ini aku pergi, Franklin.” kataku. Ia mengangguk.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.

“Mengembara. Berjalan entah ke mana mencari entah apa entah untuk apa entah sampai kapan.” jawabku.

Ia terdiam. Kami saling menatap.

“Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

“Tidak tahu. Mungkin mengirim beberapa bunga dan kartu berhias renda putih lagi.” ia tertawa. Aku menatapnya tajam. Sungguh aku masih penasaran apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Apa yang Franklin rencanakan?

Sayang aku harus segera angkat kaki dari kota ini. Aku sadar bahwa aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan Franklin setelah ini.

“Selamat jalan, Joni.”

***

“Bang! Bang Magnus! Liat nih.. ada bunga sama kartu lagi.”

“Mawar putih sama kartu berenda lagi, Tik?”

“Iya, Bang.”

“Coba baca isinya.”

“’Someday I will marry you’.”

Magnus tertawa. “Dasar orgil!”

“Ah, Abang. Jangan gitu dong.”

“Biarin. Memang orgil kan. Kalau enggak, ngapain udah tiga tahun yang dikirim itu-ituuuuuuu aja. Mawar putih sama kartu.”

“Habis apa dong, Bang?”

“Ya apa kek. Duren atau wesel.” Magnus menertawakan leluconnya sendiri. Dipeluknya Kartika dari belakang. Hmm, rambut istrinya berbau demikian harum. Magnus bersyukur ia melamar Kartika tiga tahun lalu.

“Tapi aku maklum, Tik, kalau orgil itu tergila-gila sama kamu.” kata Magnus.

“Maksud Abang?”

“Karena kamu begitu cantik. Bunga-bunga mawar itu, meski terus dikirim selama seabad sekalipun, lalu dijumlahkan, tidak bisa menandingi harumnya kecantikan kamu, Tika.” Kata Magnus romantis sambil menatap mata istrinya.

“Bang Magnus..” Kartika tersipu.

Magnus dan Kartika tengah berciuman hangat ketika layar televisi tiba-tiba berpendar-pendar memberi sinyal tentang berita terkini.

“Wah, apa lagi kali ini?” Magnus meraih remote control sambil sebelah tangannya tetap memeluk Kartika.

Seorang penyiar perempuan dengan garis muka tegas membacakan headline news untuk sore itu. Isinya tentang seorang lelaki yang bunuh diri dengan cara melompat dari atap gedung 45 lantai.

“Sampai saat ini belum diketahui dengan jelas identitas pria naas itu. Kepalanya hancur sama sekali. Yang tersisa darinya hanyalah sebuah bunga mawar putih dan kartu berhias renda dengan tulisan ‘someday I will marry you’.”

Magnus dan Kartika berpandangan.

***

Di depan Gedung Raja Kartu, orang-orang berkerumun.

“Mati?”

“Iyalah. Kepalanya hancur begitu.”

“Kapan dia lompat?”

“Hmm, aku tidak lihat.”

“Ah. Kau terlalu sibuk mengisi teka teki silang sih.”

“Hahaha. Kau juga tidak lihat, kan?”

“Ya, ya..”

“Kenapa dia lompat?”

“Ah, sudahlah.”

“Dia mati.”

“Semua orang juga mati.”

“Permisi, polisi mau lihat dompet korban.”

“Ini.”

“Ya, ini.”

“Siapa namanya?”

“Franklin.”

“Pakai Rooosevelt?”

“Tidak.”

“Pak polisi, tolong dong mayatnya segera dievakuasi. Ini pesan langsung lho dari Bapak Soetarmadja. Saya ini tangan kanan beliau.”

“Ya, ya, sebentar. Tadi siapa namanya? Frank?”

“Franklin.”

“Franklin? Tadi pakai Roosevelt tidak?”

“Tidak.”

“Jadi hanya Franklin?”

“Ya. Franklin.”

Ciputat, 25-27 Januari 2007

(dimuat di Wawasan edisi Minggu, 13 Mei 2007)

5 comments:

  1. Andien, membaca cerpen Franklin, aku jadi ingat temanku penyair Eko Tunas.Dia pernah mencintai seorang gadis smu, tiap pagi dia duduk di halaman rumahnya, dan selalu menyapa, gadis itu bilang orang gila, tapi akhirnya konon jadi pacarnya. Alur ceritanya mengejutkan, tak terduga. Dan aku kira itu cerpen orisinil. Aku suka dengan filosofinya tentang cinta.Menarik sekali. Aku merasakan keliaran kamu, dan aku suka.

    ReplyDelete
  2. thanks ya pak untuk komentarnya :)

    ReplyDelete
  3. seperti Nietzche kepada Lou Salome. Cinta Franklin dibawa sampai mati. Mungkin, itulah cinta sejati.

    ReplyDelete
  4. Saya rasa akan lain jadinya jika Franklin berhasil menikahi Kartika, atau Nietzsche sukses menikahi Lou Salome (yang ngomong-ngomong sudah menawari poliandri) - mungkin mereka akan merasa terjebak dalam konstruksi.

    Cinta menjadi sejati karena tidak sungguh-sungguh terjadi.

    ReplyDelete
  5. Franklin memang berbeda dari orang2 dikota-nya. mungkin itu yg membuat-nya tak berjodoh dengan Kartika. "tak sama gila-nya.

    ReplyDelete