Pages

Bibir

Salah satu hasil dari kegiatan bengong, saya percaya, adalah cerita. Di bawah ini (ciyeh di bawah ini, kaya lagi ujian aja.. hehe) adalah salah satu cerpen yang saya buat dengan gaya Afgan (baca: sadis!) Inspirasinya dari acara Buru Sergap di SCTV tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Kalo engga salah waktu itu yang edisi istri disiram air panas ama suaminya. Penyebabnya tuh cuma gara-gara si istri sering ngomel2 engga karuan. Habis nonton acara itu saya bengong, melamun, berkhayal... hingga akhirnya jadilah cerpen ini. Enjoy ya! :)

Bibir¹

Cerpen Andina Dian Dwi Fatma

“Cassius.”

Laki-laki itu menyulut rokoknya, menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asap putih yang segera menguar ke udara. Diacaknya rambut panjangnya yang tebal dan hitam. Sudah terlalu lama ia tidak memotong rambutnya, membiarkannya tumbuh serupa belukar. Tetapi itu memang sengaja dilakukannya. Sekadar untuk membuat istrinya kesal. Istrinya adalah perempuan yang sangat cerewet dan mudah marah. Cassius membenci perempuan itu. Tetapi tidak ketika masih pacaran. Istrinya tidak cerewet saat itu. Mungkin seharusnya dulu mereka tidak usah kawin. Pacaran sampai bosan dan kemudian bisa saling meninggalkan dengan tenang.

“Cassius.”

Ia tertawa sendiri memikirkan pengandaian tak masuk akal yang dibuatnya barusan. Tak masuk akal, karena Cassius tak mungkin memacari perempuan itu tanpa kemudian menikahinya. Perempuan itu memiliki keluarga besar, teramat besar malah, yang selalu memonitor gerak-gerik Cassius bahkan sejak masih berstatus pacar. Setiap kali perempuan itu menyeret lengan kurus Cassius menghadiri acara keluarga, Cassius selalu mengeluh karena terlalu banyak wajah dan nama yang harus dihafalnya. Jika Cassius lupa, itu akan menjadi alpa yang akan dibahas serius di tengah keluarga. Saat itu Cassius baru sadar bahwa pacarnya adalah ratu drama yang membuat segala permasalahan menjadi dua puluh kali lebih gawat daripada yang seharusnya. Tidak ada seorang pria pun yang ingin hidup tenang boleh menikahi ratu drama. Tapi, Cassius tidak sempat lagi menghitung untung rugi. Sebab suatu kali, ayah dan paman perempuan itu yang jumlahnya sebelas orang meminta Cassius segera melamar dalam sebuah sidang keluarga. Cassius pun resmi memasuki sebuah neraka yang akan memenjarakannya sepanjang sisa usia.

“Cassius.”

Ia menoleh. Memandang perempuan berambut tebal keriting dengan tubuh setengah telanjang terikat di sebuah kursi. Perempuan itu hanya mengenakan celana dalam dan sebuah bra hitam yang basah oleh keringat dingin. Rambutnya acak-acakan. Bibirnya merah, campuran antara lipstik berwarna tomat dengan cairan lengket darah yang asin dan kental. Perempuan itu memandangi Cassius dengan matanya yang bulat indah yang kini bengkak dan membentuk dua aliran sungai pada kedua belah pipinya.

“Cassius.”

“Jangan memanggilku terus.”

“Cassius. Sakit..”

“Diamlah.” Cassius memberi tanda pada perempuan itu untuk diam. Ia memijit kepalanya sendiri yang mendadak pusing.

“Cassius. Lepaskan aku..”

Cassius kehilangan kesabaran. Ia menyeberangi ruangan, menyambar secarik kain lalu menjejalkannya ke mulut perempuan itu yang mengaduh tanpa kata-kata. Hanya matanya yang menangis lebih keras. Air matanya kembali menganak sungai.

“Maafkan aku, tapi kau tak pernah belajar bagaimana menggunakan bibirmu.” kata Cassius sambil mengelus bibir perempuan itu. Bibir yang cukup indah, sebenarnya. Penuh dan merah alami. Cassius masih ingat betapa ia dulu menyukai bibir itu. Menciumnya lama-lama dan memainkannya dengan lidah saat mereka sedang bercumbu. Tapi kemudian pemiliknya lebih sering menggunakan bibir itu untuk mengomel, marah-marah, memaki, dan merendahkan harga diri Cassius. Ia masih ingat betapa dari bibir perempuan itu keluar berbagai kata-kata yang melukai hatinya.

“Dasar suami keparat! Tahunya hanya makan dan tidur saja!”

“Menyesal aku menikahimu! Mana kehidupan yang pernah kau janjikan padaku? Pelukis kere! Cobalah mengerjakan yang lain saja, kau tidak punya bakat! Lukisanmu saja tak ada yang laku!”

“Jual sajalah koran! Lukisanmu itu hanya pantas jadi penutup lobang tikus!”

“Dengan duit segini, apa yang bisa kubeli? Apa yang bisa kumasak untuk menambal perut bangsatmu itu?”

Dan banyak, banyak lagi kata-kata yang masih Cassius ingat. Selama itu dia diam saja. Bukankah ada peribahasa ‘diam adalah emas’? Tetapi sekarang Cassius sadar, bahwa ia tidak menginginkan emas. Ia hanya ingin agar istrinya, ya, istrinya yang sangat dicintainya itu, belajar menggunakan bibirnya yang indah. Agar tidak lagi keluar kata-kata yang menyesakkan hati Cassius. Sebab ia pelukis. Pekerja seni. Dan pekerja seni harusnya diberi inspirasi, meski tiap hari Cassius hanya mampu memberi makan istrinya sambal terasi.

“Jadi, apa yang harus kulakukan denganmu, wahai istriku?” gumam Cassius sambil memandang istrinya yang masih terus menangis.

Tiba-tiba Cassius merasa hawa dalam ruangan berukuran 3x4 itu makin menyesakkan. Ia menyeberangi ruangan lagi, kali ini untuk membuka jendela. Satu-satunya jendela yang ada di ruangan itu. Ruangan yang sengaja dirancang Cassius sesuai dengan seleranya dan dimaksudkan menjadi kamar kerjanya. Memang seorang pelukis seperti dirinya tidak membutuhkan ruangan bagus-bagus dengan penerangan dan sirkulasi udara yang baik. Pelukis hanya butuh inspirasi. Kalau bisa datang dari sosok seorang perempuan. Ya, ya, perempuan. Makhluk terindah yang pernah diciptakan alam.

Dulu, sebelum tidur ibu Cassius selalu membacakan cerita untuknya. Favorit Cassius kecil adalah Putri Tidur.

“Kenapa putri itu tidur, Ibu?”

“Ia mengantuk, Cassius.”

“Kenapa sampai ratusan tahun?”

“Karena ia dikutuk.”

“Apa salahnya?”

“Tidak ada. Ia hanya bernasib sial.”

Cassius kecil merasa iba pada Putri Tidur. Begitu iba sampai menitikkan air mata. Biasanya ibu Cassius lalu akan tertawa sambil mengusap-usap rambutnya. Sejak itu Cassius merasa bahwa tujuan hidupnya adalah untuk melindungi perempuan. Cassius ingin jadi pangeran. Tetapi beberapa tahun kemudian ketika ia mulai mengenal pinsil warna, Cassius tahu bahwa dirinya berbakat melukis. Lalu ia ingin jadi pelukis. Dengan perempuan sebagai inspirasi terbesarnya.

Inspirasi, bukan sambal terasi.

Tiba-tiba Cassius tertawa keras. Lantang. Sampai menitikkan air mata. Cassius terbungkuk-bungkuk sambil ngakak. Ia memegangi otot perutnya yang menegang hingga terasa agak sedikit sakit. Cassius tertawa begitu lepas. Istrinya menatap Cassius dengan pandangan ngeri.

“Kau ini,” kata Cassius di sela-sela tawanya, “memang sangat lucu, istriku. Benar-benar lucu. Kau adalah perempuan terlucu sejagat raya!”

Lalu Cassius tertawa lagi. Ngakak lagi. Kali ini sampai berpegangan pada teralis jendela agar tidak jatuh. Suara tawa Cassius menggema di seantero ruangan. Tawa Cassius baru berhenti ketika ia menyadari rokoknya habis. Sambil tersenyum-senyum, Cassius meraih kantung celananya, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Sambil memandang istrinya, Cassius menghisap rokoknya dengan nikmat.

“Kenapa kau tidak bisa seperti rokok ini, istriku?” tanya Cassius sambil mengayunkan rokoknya sekilas. “Diam, tak menghakimi, mendengarkan. Tak pernah cerewet, memberondongku dengan pertanyaan dan komentar yang menyakitkan.”

Istri Cassius hanya menggeleng-geleng. Matanya masih terus mengeluarkan air. Badannya makin berkeringat. Ia menatap Cassius dengan pandangan memohon. Siapa tahu suaminya itu masih punya sedikit, sedikit saja, hati nurani. Tolong.., jerit istri Cassius dalam hati.

Ruangan kembali sepi. Semilir angin membelai rambut gondrong Cassius. Terdengar isakan istrinya. Cassius memejamkan mata. Tiba-tiba ia merasa sangat sedih. Kenapa hidup begitu hitam putih seperti ini? Kalau tidak kalah, ya menang. Kalau tidak menertawakan, ditertawakan. Kalau tidak mengagumi, dikagumi. Cassius muak. Muak dengan hidup. Ibunya pernah berkata bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah abu-abu. Tidak ada yang mutlak benar, dan tidak ada yang absolut salah. Selalu lihat dari dua sisi, maka Cassius akan selamat dan bahagia selalu. Asalkan ia mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya.

Hikmah taik.

Ngomong-ngomong taik, ia jadi ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.

“Kalau kau terus melukis seperti ini, aku bisa rugi, Cass! Lukisanmu itu terlalu rumit. Tak ada orang yang ngerti maksud lukisanmu. Aku bisa pailit gara-gara kau, ngerti?” kata Bonar, pemilik galeri tempat Cassius menitipkan lukisan-lukisannya untuk dijual.

“Tapi Bang, lukisanku ini bermakna! Aku yakin akan ada orang yang tertarik untuk membelinya. Orang yang mengerti, dan mencintai seni.” kata Cassius, romantis.

Bonar tertawa keras. “Seni? Ah, keparat memang kau Cass. Aku ini butuh makan, tidak seperti kau yang cukup dengan cat dan kuas.”

“Jadi gimana dengan lukisan-lukisanku ini, Bang?”

“Ah, terserah kau sajalah!” Bonar mengibaskan tangannya. “Yang penting kau bawa pergi dari galeriku ini. Biar agak lapang ruang untuk pelukis-pelukis laen yang karyanya lebih bisa dimengerti!”

Cassius tersenyum pahit mengenang pertemuan terakhirnya dengan Bonar. Mungkin yang dimaksud Bonar adalah lebih bisa laku. Lebih bisa menghasilkan uang untuk perutnya yang tambun. Uang! Apa harganya dibandingkan dengan idealisme? Begitu selalu pikiran Cassius. Sejak itu Cassius mengangkuti semua lukisannya, membawanya pulang ke rumah. Lukisan-lukisan yang sangat dicintai dan dihargainya. Semuanya lahir dari hati dan jiwanya. Semuanya jujur. Tidak seperti lukisan pura-pura yang selalu laris terjual di galeri si Bonar. Makanya Cassius amat bangga dengan semua lukisannya, lebih dari rasa bangganya terhadap diri sendiri. Cassius suka berlama-lama menatap lukisan-lukisannya. Mengenangkan momen demi momen yang menginspirasi terciptanya mereka.

Tiba-tiba terdengar isak tangis. Cassius tergeragap. Ia melirik istrinya yang masih terikat di kursi kayu berwarna coklat yang sebelah kakinya sudah reot sehingga menimbulkan bunyi ngik ngik kalau diduduki. Cassius menggeleng-geleng bingung. Apa yang harus dilakukannya dengan perempuan ini? Apa yang harus diperbuatnya agar istrinya tak lagi sembarangan menggunakan bibirnya? Ah, ia tak bisa berpikir. Cassius berjalan mondar-mandir sambil tak melepaskan pandangan dari istrinya.

Rokok, rokok, ia butuh rokok.

Diraihnya bungkus rokok dalam kantung celananya. Ah, sial. Rokoknya habis. Cassius menggerutu. Ia lalu melangkah menuju istrinya yang terikat di kursi tua. Dengan gemas Cassius mengguncang-guncangkan bahu perempuan itu.

“Salahmu!”

Perempuan itu menangis.

“Salahmu! Semua ini salahmu!” Cassius menampar istrinya.

Perempuan itu menjerit. Suaranya teredam kain kumal yang dipakai Cassius menyumbat mulutnya.

“Sundal! Sundal! Sundal!”

Cassius menampari istrinya sambil menjerit-jerit. Air matanya tak terasa mengalir deras. Lama sekali rasanya sampai Cassius berhenti. Terengah-engah, ia kelelahan sendiri. Ia menatap wajah istrinya yang bengkak dan penuh darah. Tapi lihatlah bibir perempuan itu. Merekah, indah. Merah memesona. Betapapun bibir itu telah banyak mendatangkan masalah baginya, toh ia tetap indah. Cassius menatap bibir itu dengan pandangan mendamba yang sulit dijelaskan. Matanya nyalang. Cassius tiba-tiba merasa jatuh cinta lagi. Ia lalu memeluk istrinya erat-erat.

“Tak akan kubiarkan kau pergi, istriku. Tak akan pernah. Tak akan.. Tak akan..”

Istrinya diam saja.

“Bibir ini, istriku.. bibir ini..” Cassius meracau, mengelus lembut bibir bengkak yang belepotan darah dan air mata itu. “Terlalu indah. Kau beruntung memilikinya. Aku maklum bila kadang-kadang kau lupa bagaimana menggunakannya. Itu karena saking indahnya bibir ini, ya kan istriku?”

Istri Cassius muntah darah, merembesi kain kumal yang menyumpal mulutnya. Cassius tertawa.

“Mari, mari kubantu kau hilangkan sifat burukmu itu. Setelahnya, kita akan jadi pasangan yang paling berbahagia. Paling rukun. Sakinah mawadah wa rohmah. Gemah ripah loh jinawi. Hahahahaha… “ Cassius tertawa lagi, bahagia. “Sebentar, istriku. Tunggu disini, aku akan kembali.”

Cassius mengecup kening istrinya. Ia bangkit, keluar ruangan. Tak berapa lama ia masuk lagi. Di tangannya ada sebuah benda berkilap.

Istri Cassius hanya mampu menatapnya dengan pandangan kosong.

Esoknya, siaran berita siang menampilkan gambar sepotong bibir yang dikoyak paksa dari wajah seorang perempuan cantik. Konon perempuan itu dibunuh karena terlalu banyak berbicara.

¹dalam ingatan pada kumpulan cerpen “Bibir” karya Bakdi Soemanto

Tengger, November 2006, untuk my oldman:

you would always have my unspoken passion.


(dimuat di Tabloid Cempaka, 27 Juni 2007)

No comments:

Post a Comment