Pages

Artis dan Kehidupan Pribadi

Di tengah kesibukan menghadapi perkara narkoba dan sel penjara, Fachry Albar dan Gary Iskak dinominasikan sebagai calon-calon pemenang dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2007.

Kamis malam (29/11) di Gedung Club XXI, Jakarta Theater, dewan juri mengumumkan nama-nama nominator untuk berbagai kategori dalam FFI 2007 yang rencananya akan dihelat di Riau. Di antara nama-nama itulah terdapat nama Fachry Albar untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik (film Kala), dan Gary Iskak untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik (film D’Bijis).

Banyak pihak yang mengerutkan dahi mendengar nama Fachry dan Gary ikut masuk sebagai nominator. Nampaknya, tidak semua orang bisa menerima jika perhelatan layar lebar paling bergengsi tahun ini harus diwarnai dengan aroma narkoba dan jeruji besi. Seperti diketahui, Fachry sempat diperiksa oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) atas tuduhan kepemilikan kokain. Gary Iskak malah sudah lebih dulu mendekam di penjara.

Aktor senior Deddy Mizwar adalah salah satu contoh yang keberatan. Dalam salah satu acara infotainment yang ditayangkan sore hari, Deddy dengan serius meminta dewan juri untuk mempertimbangkan kembali keputusan memasukkan nama Fachry dan Gary. “Demi citra dunia perfilman Indonesia sendiri,” demikian alasan aktor kawakan pemeran tokoh Nagabonar tersebut.

Barangkali yang dikatakan Deddy ada benarnya. Dunia film Indonesia memang sedang bangkit-bangkitnya. Produksi film relatif tinggi, meskipun warna horor masih terlalu mendominasi. Aktor berbakat bermunculan, ide-ide cerita segar terus mengalir. Lantas apakah dalam keadaan yang bisa dibilang kondusif seperti ini, FFI harus mengambil resiko memperburuk citra?

Satu poin yang bisa diambil dari rasa keberatan Deddy Mizwar di sini adalah sebuah kekhawatiran. Bagaimanapun, aktor adalah seorang public figure yang tindak tanduknya diperhatikan masyarakat. Apalagi kecenderungan dunia perfilman Indonesia dewasa ini, mencuplik jargon demokrasi, adalah “dari anak muda, oleh anak muda, dan untuk anak muda”. Sutradaranya muda, pemainnya muda, dan ditonton oleh mayoritas anak muda pula.

Nah, Fachry dan Gary adalah ‘perwakilan’ aktor muda yang sukses dalam dunia layar lebar Indonesia. Mereka berhasil karena bakat dan kerja keras. Bahwa di tengah kesuksesan itu mereka ternyata dekat dengan narkotika dan obat-obatan terlarang, hal inilah yang merisaukan Deddy.

Sebab dengan memasukkan nama Fachry dan Gary dalam daftar nominator, bukankah FFI seperti menolerir pemakaian narkoba? Seolah-olah FFI berkata bahwa tak apalah memakai narkoba asalkan berprestasi atau berbakat. Lantas bila pola pikir ini dihayati benar oleh anak muda sebagai konsumen utama film Indonesia, meminjam kata-kata favorit Nagabonar, apa kata dunia?

Pembicaraan tentang ruang pribadi artis memang bukan barang baru dalam dunia pesohor Indonesia, juga dunia. Artis selalu saja butuh ruang pribadi, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, dan tidak memedulikan apa kata orang tentang dirinya. Hanya karena ia dikenal oleh massa, demikian pikir si artis, bukan berarti massa bebas menilai (menghakimi barangkali lebih tepat) sekecil apapun hal yang dilakukannya.

Sayangnya, hal ini lebih sering bersifat utopis belaka. Infotainment melalap tanpa ampun ruang pribadi artis. Mulai dari kasus yang relatif berat seperti perceraian, sampai hal remeh misalnya mengintip isi tas mereka. Begitu tingginya rasa ingin tahu pemirsa sampai-sampai apakah sang artis membawa selembar tisyu dalam tas pun menjadi satu hal yang perlu diketahui. Makin banyak hal yang disingkap penggemar tentang artis kesayangannya, makin dekat ia dengan sang artis terasa.

Sebagai media komunikasi yang tujuan akhirnya adalah menyampaikan pesan, film memang terbilang efektif. Kita tahu gambar bergerak (motion pictures) memang lebih dinamis dibandingkan dengan teks diam seperti buku atau koran. Inilah yang menjadikan film begitu menarik untuk disimak, dan dengan demikian punya peluang lebih besar juga untuk menjangkau audiens yang heterogen dalam jumlah yang masif.

Dikemas dalam bentuk hiburan, penonton film tidak akan merasa digurui meskipun nilai-nilai yang ingin disampaikan sesungguhnya terbilang serius. Film Nagabonar Jadi 2, sebagai contoh, punya pesan yang tidak main-main: semakin sedikit orang Indonesia yang menghargai pahlawannya. Namun penyampaiannya dibuat sedemikian rupa sehingga orang tertarik untuk mengikuti dengan intens scene per scene, bersama-sama tertawa, menangis, merenung, sehingga pesan pun pada akhirnya tersampaikan dengan baik.

Dalam teori-teori komunikasi dijelaskan bahwa semakin tinggi intensitas audiens menyimak sebuah acara, semakin besar pengaruh acara tersebut padanya. Di sini kekhawatiran Deddy Mizwar mulai terasa masuk akal. Meski demikian, kerisauan Deddy tersebut melupakan setidaknya satu hal, yaitu tanggung jawab pribadi penonton. Ketika memutuskan untuk menggemari seorang artis, penonton harus memisahkan antara dua hal, yakni karya dan artis itu sendiri. Menyukai cara Fachry Albar berlakon dalam film Kala, misalnya, tentu berbeda dengan menyukai Fachry sebagai pribadi.

Era audiens pasif, menurut hemat saya, memang sudah lama berakhir. Interpretasi acara televisi maupun film pada audiens selalu terjadi dalam tataran individual. Artinya, pemaknaan selalu bersifat subjektif. Tidak mungkin lagi kita memukul rata resepsi setiap penonton.

Audiens pun kini bukan lagi penonton yang hanya duduk manis dan mudah dibodohi. Mereka sudah tahu bagaimana membedakan frontstage dan backstage artis kesayangan. Dalam rubrik chatting salah satu situs penggemar Indra L. Bruggman, banyak yang berkomentar bahwa kehidupan seks Indra bukan urusan mereka. “Saya tetap menyukai akting Indra, entah dia gay atau bukan,” tulis salah satu fans.

Jelaslah bahwa mayoritas audiens Indonesia sudah bisa berperan aktif dalam mengidolakan kaum pesohor. Mereka mampu menikmati karya seorang artis tanpa mencampur adukkan karya tersebut dengan kehidupan pribadinya. Proses panjang mendewasakan penonton Indonesia, harus diakui, memang tengah berjalan.

Dalam kasus Fachry dan Gary, agaknya apa yang dikatakan Didi Petet bisa menjadi sebuah solusi yang bijak. “Kita sebagai masyarakat film,” kata Didi, “hendaknya menilai seorang aktor dari karyanya saja. Di luar itu adalah tanggung jawab sang artis sendiri, kita tidak perlu campur tangan.”

Lalu bagaimana bila nanti justru Fachry dan Gary yang memenangi ajang FFI dan membawa pulang piala untuk kategorinya masing-masing? Akankah ketakutan Deddy Mizwar akan menjadi kenyataan? Bisa jadi, bisa pula tidak. Namun setidaknya, dengan memasukkan nama kedua aktor muda tersebut dalam jajaran nominator, panitia FFI 2007 telah turut berkontribusi dalam mendidik pemirsa Indonesia agar lebih matang dalam menikmati tontonannya

(dimuat di Wawasan edisi 14 Desember 2007)


No comments:

Post a Comment