Pages

Agama dan kehendak untuk berkuasa

Apabila topik tentang Ahmad Musaddeq dan aliran ‘sesat’-nya dikatakan sebagai topik yang fenomenal, tobatnya pemimpin Al Qiyadah Al Islamiyah ini tentu dua kali lipat lebih mencengangkan.

Melalui dialog dengan para kiyai Nahdlatul Ulama, Ahmad Musaddeq akhirnya menyadari bahwa apa yang selama ini diyakininya adalah salah. Ia, dengan kesadaran penuh, mencabut kerasulannya. Dengan sendirinya hilang pula segala macam syariah yang diajarkannya. Tidak ada lagi, misalnya, tuntunan solat sehari sekali. Hilang juga pemakluman untuk tidak wajib haji atau puasa.

Nampak jelas bahwa sebagai seorang imam, apalagi yang mengaku dirinya rasul, Musaddeq jelas tidak memiliki keteguhan hati yang cukup. Ambil contoh sang ‘teroris’ Imam Samudra. Bila kita sempat membaca bukunya yang berjudul Aku Melawan Teroris, akan nampak jelas bahwa betapapun ia dicap oleh masyarakat umum sebagai pihak yang nyata-nyata bersalah, Imam Samudra tetap yakin bahwa apa yang dijalaninya adalah benar.

Di kala nalar awam (common sense) menyebutnya pembunuh, dengan penuh keyakinan ia mengatakan bahwa ia berjihad. Saat masyarakat memberinya cap teroris, dengan teguh ia menyebut bahwa Amerika-lah yang teroris. Bahkan ketika para kiyai –yang notabene ‘melek’ agama- menyebutnya salah menafsir ayat Tuhan, Imam Samudra tetap berani berpikir dan berpegang pada apa yang ia yakini benar.

Apa persamaan di antara Musaddeq dan Samudera? Keduanya sama-sama menafsir ayat Tuhan. Keduanya sama-sama memberikan interpretasi sendiri terhadap baris-baris kitab suci Al Quran. Secara subtil timbul kesan bahwa keduanya sama-sama berani berpikir di luar ‘kewajaran’.

Bahwa kemudian Musaddeq menyerah dan Samudera tetap bertahan, itu tentu lain persoalan. Permasalahan yang layak kita renungkan sekarang adalah, mengapa hal ini terjadi? Mengapa muncul banyak aliran dan paham baru sebagai sempalan dari agama besar yang telah lebih dulu mapan?

Kehendak untuk berkuasa

Filsuf Jerman, Friedrich Wilhem Nietzsche (1844-1900) pernah bicara tentang kehendak untuk berkuasa (will to power). Dalam pandangan Nietzsche, hidup ini seluruhnya tentang kehidupan berkuasa, sedangkan manusia adalah kehendak untuk berkuasa itu sendiri.

Penjelasannya kira-kira begini: Nietzsche tidak menyetujui bahwa manusia adalah anugerah yang diberikan alam (seperti yang diyakini Charles Darwin), sebagaimana ia juga tidak sepakat bahwa manusia adalah bagian dari realitas penciptaan ilahiah. Menurut Nietzsche, untuk dapat hidup dengan penuh eksistensi dan vitalitas, manusia harus memperlakukan hidupnya sebagai kehendak untuk berkuasa.

Dengan itu, manusia akan memegang kendali penuh atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Manusia akan memiliki mentalitas tuan (berani, agung, dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya), alih-alih mentalitas budak (takut, lemah, dan cenderung berharap pada orang lain untuk memperoleh kebahagiaan).

Konsep Nietzsche mengenai kehendak untuk berkuasa inilah yang agaknya terjadi pada Musaddeq dan para pemimpin aliran sempalan lainnya. Dalam diri mereka terdapat kebutuhan untuk merasa nyaman dengan kepercayaan yang dipeluknya. Ketika kebutuhan itu tidak lagi bisa didapat melalui agama yang terlebih dulu mapan, mereka mengambil langkah ekstrim: mendirikan aliran sempalan!

Mungkin sekali Ahmad Musaddeq hanya berhalusinasi soal kerasulannya. Mungkin sekali tidak pernah turun ayat untuknya, terlebih Musaddeq sendiri kini telah menyadari bahwa dirinya turun ke dunia sebagai khalifah Allah, sebagaimana manusia pada umumnya.

Tetapi pada pokoknya, dengan mendirikan Al Qiyadah Al Islamiyah, Musaddeq telah menegaskan sinyalemen bahwa ada kehendak untuk berkuasa dalam beragama. Ada kebutuhan untuk menjadikan kepercayaan terasa personal. Segenap kehendak dan kebutuhan inilah yang lantas diaplikasikannya dengan menafsir ayat Tuhan, memberikan interpretasi baru atasnya yang sesuai dengan kehendak dan kebutuhannya itu.

Bukan hanya pada Musaddeq dan para imam aliran sempalan lainnya, pada masyarakat awam pun ada kehendak untuk berkuasa. Bila kita mau jujur, rasanya tidak ada manusia yang dalam beragama tidak pernah bertanya-tanya. Bahkan Umar bin Khattab yang notabene adalah salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad, pernah heran mengapa ia harus mencium batu hitam Hajar Aswad.

Dalam hidup beragama seseorang, pasti ada momen di mana ia merasa gelisah dengan apa yang harus dan tidak harus dilakukannya. Ada saat-saat bingung mengenai apa yang boleh ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan. Para alim ulama juga sibuk berdebat sendiri, meninggalkan umatnya dalam kebingungan, mana yang harus diikuti?

Di waktu-waktu seperti inilah, saat agama terasa asing dan kedamaian tidak didapatkan, manusia merasa gelisah. Timbul kehendak dalam dirinya untuk ‘menguasai’ kepercayaannya. Ada dorongan untuk menjawab segenap pertanyaan dalam dirinya, dan mencari cara untuk beribadah yang sesuai dengan batinnya.

Manusia ‘awam’ mungkin hanya akan memilih aliran mana yang kira-kira sesuai dengan dirinya, apakah itu NU atau Muhammadiyah, sementara sebagian yang lain ‘memilih’ mendirikan aliran baru yang tentu saja sesuai dengan ‘selera’ pribadinya. Yang terakhir itulah yang menurut hemat penulis terjadi pada Ahmad Musaddeq, dan para pemimpin aliran sempalan lainnya.

Bagaimanapun, agama adalah sebuah kebutuhan personal. Ada subyektivitas dalam memeluk suatu kepercayaan. Bukankah kedamaian batin adalah sesuatu yang sesungguhnya dicari orang dalam beragama? Lantas, bukankah kedamaian tak pernah tunggal, selalu berbeda bentuknya bagi setiap manusia?

Berbeda bentuk berarti pula berbeda cara. Ini yang harus kita sadari, kita insyafi, dan kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh tidak pantas bagi seorang manusia untuk menghakimi kepercayaan manusia yang lain, apabila justru dengan bekal kepercayaan itulah ia dapat menemukan kedamaian yang diinginkannya.

(dimuat di Wawasan,20 November 2007)

No comments:

Post a Comment